KETIK, JAKARTA – Amerika Serikat bersama Israel terus menggempur Iran, salah satu negara kuat di Timur Tengah yang selama beberapa puluh tahun terakhir menolak tunduk kepada negeri Paman Sam.
Namun di tengah gempuran tersebut, sebuah insiden memalukan dan tak terduga terjadi. Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dilaporkan jatuh di wilayah udara Kuwait.
Tiga jet tempur tersebut dilaporkan tidak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait, salah satu negara Arab yang menjadi sekutu utama Amerika Serikat. Insiden naas tersebut terjadi pada Senin dini hari, 2 Maret 2026 waktu setempat.
Insiden ini terjadi pada saat operasi militer besar yang melibatkan serangan udara AS dan Israel terhadap target di Iran, serta serangan balasan Iran menggunakan pesawat, rudal balistik, dan drone terhadap instalasi sekutu di kawasan Teluk. Ketegangan yang sudah tinggi dipenuhi dengan serangan udara, pertahanan udara aktif, dan ancaman rudal balistik dalam beberapa hari terakhir.
Kronologi Kejadian
Menurut pernyataan resmi dari U.S. Central Command (CENTCOM) yang dirilis beberapa jam setelah insiden terjadi, ketiga jet – F-15E Strike Eagles yang sedang terlibat dalam “Operation Epic Fury” – ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait dalam apa yang digambarkan Pentagon sebagai friendly fire (tembakan kawan).
Beberapa jam sebelumnya, pesawat-pesawat itu sedang terbang di atas wilayah udara Kuwait dan diduga sedang bersiap menggempur Iran.
Namun, manuver ketiga pesawat jet tempur tersebut telah dinilai secara keliru sebagai ancaman oleh sistem pertahanan udara Kuwait yang sedang siaga menghadapi serangan Iran.
Laporan lokal dan video yang beredar menunjukkan satu jet yang terperangkap dalam kobaran api sebelum akhirnya jatuh di sekitar wilayah Al Jahra, sekitar 10–30 kilometer dari pangkalan udara terbesar di Kuwait.
Tiga pesawat jet tempur tersebut masing-masing membawa dua awak pesawat. Total enam prajurit US Air Force yang ada di ketiga pesawat tersebut dilaporkan selamat setelah berhasil melontarkan diri dengan kursi pelontar.
Mereka berhasil mendarat ketinggian yang yang cukup ekstrim dan kemudian dievakuasi oleh tim penyelamat. Kondisi mereka dilaporkan stabil setelah evakuasi medis awal.
Seorang saksi mata yang berada di lokasi melihat salah satu pilot melayang dengan parasut di atas gurun Kuwait dan segera ditolong oleh penduduk setempat. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik dramatis saat jet-jet tersebut jatuh, meskipun otoritas militer setempat belum merilis video resmi dari kejadian.
Atas insiden tersebut, pihak militer AS mengatakan insiden tembakan salah sasaran ini terjadi di tengah active combat — termasuk serangan drone, rudal balistik, serta pesawat tempur Iran — yang membuat sistem pertahanan udara Kuwait dalam status siaga tinggi.
Karena tekanan operasi militer intensif itu, identifikasi jet yang cepat berubah membuat rudal pertahanan salah mengunci ketiga jet F-15 yang menjadi sekutu.
Adapun pihak militer Kuwait secara singkat mengakui bahwa sistem pertahanannya telah secara tidak sengaja melumpuhkan jet-jet AS, dan menyatakan akan bekerja sama dengan Amerika untuk menginvestigasi penyebab pasti dari kesalahan identifikasi tersebut.
Pemerintah Kuwait juga menegaskan dukungannya terhadap pasukan sekutu meskipun insiden memalukan ini terjadi.
Pernyataan dari Pentagon dan pejabat militer AS menegaskan penyelidikan bersama akan dilanjutkan untuk memahami rangkaian kejadian dan untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa di medan perang yang sangat berisiko ini. (*)
