KETIK, JAKARTA – Menjalankan puasa memang berat. Selain menahan nafsu makan dan minum, kita juga dituntut untuk menahan nafsu-nafsu yang lain.
Semua itu dilarang bukan tanpa sebab. Nafsu adalah bola panas yang harus dikontrol, bukan dibuang.
Hal-hal tersebut merupakan nafsu konsumtif, seperti yang dituturkan oleh Menteri Agama RI, KH. Nasaruddin Umar baru-baru ini.
Baginya, nafsu harus dikonversi dari yang mulanya konsumtif kepada produktif.
Mulanya, beliau berpendapat bahwa puasa merupakan “madrasah kehidupan”. Menurutnya puasa ramadhan merupakan momentum untuk melatih pengendalian nafsu, disiplin diri, serta nafsu konsumtif.
“Puasa adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kita hidup sederhana dan fungsional.” ujar pria berusia 66 tahun itu.
Menag Nassarudin menyoroti manusia yang selalu mengukur kebahagiaannya melalui kepemilikan barang.
Menurutnya, justru gaya hidup seperti itulah yang menjauhkan manusia dari esensi kebahagiaan sejati. Puasa hadir sebagai perlawanan terhadap budaya “hedonisme” atau kepuasan materi adalah tujuan utama.
Nasaruddin berpendapat bahwa keberhasilan umat muslim dalam berpuasa bukan dari seberapa mahal dan mewahnya menu berbuka yang disantap.
“Keberhasilan puasa diukur dari kemampuan menahan diri, bukan dari seberapa banyak atau seberapa mahal hidangan berbuka yang kita santap.” katanya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual dan sosial. Dengan menahan diri dari keinginan berlebih, umat Muslim diajak kembali pada pola hidup sederhana, penuh makna, dan lebih dekat dengan nilai-nilai keagamaan.
Puasa, lanjutnya, juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan kepekaan sosial.
Dengan merasakan lapar dan haus, umat Muslim diingatkan akan penderitaan orang lain yang kurang beruntung. Hal ini diharapkan menumbuhkan rasa empati dan solidaritas.
Dalam konteks modern, Nasaruddin Umar mengingatkan agar umat tidak menjadikan Ramadhan sebagai ajang konsumsi berlebihan.
Ia menilai fenomena belanja besar-besaran menjelang berbuka justru bertentangan dengan semangat puasa.
Sebagai penutup, ia mengajak umat menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri, baik secara fisik maupun spiritual.
“Puasa adalah latihan melawan hawa nafsu, terutama nafsu konsumtif. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk kembali ke hidup sederhana dan penuh syukur,” tutupnya.(*)
