KETIK, PACITAN – Masalah banjir perkotaan di Kabupaten Pacitan tak lagi semata soal drainase.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pacitan mengungkapkan, penggundulan hutan dan masifnya alih fungsi lahan di wilayah hulu sungai diduga kuat turut menjadi pemicu membesarnya debit air yang mengalir ke jantung kota setiap kali hujan deras mengguyur.
Fenomena ini bisa dilihat dampaknya dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Bidang Penyehatan dan Lingkungan Air Minum (PLAM) PUPR Pacitan, Tonny Setyo Nugroho, mengungkapkan perubahan tutupan lahan di kawasan hulu telah mempercepat limpasan air sekaligus membawa sedimentasi dalam jumlah besar.
Tonny menghitung, setiap tiga tahun, tiap titik drainase area kota di Pacitan wajib dilakukan pengerukan karena mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa air.
"Kalau dulu tidak ada banjir,” ujar Tonny, Senin, 29 Desember 2025.
Ia memaparkan, wilayah hulu saat ini banyak berubah menjadi lahan hujan milik warga yang didominasi tanaman sengon dan jenis tanaman cepat tumbuh lainnya.
Vegetasi semacam itu dinilai tak mampu menahan tanah dan menyerap air secara optimal.
“Daya ikat tanahnya terbatas. Begitu hujan intensitas tinggi turun, sedimentasi langsung ikut terbawa aliran air,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, PUPR Pacitan juga mencatat maraknya pembangunan rumah warga di kawasan hulu sungai.
Alih fungsi lahan tersebut kian memperparah kondisi karena menggerus daya resap tanah.
“Di area hulu sekarang mulai banyak berdiri bangunan rumah-rumah warga. Resapan tanahnya otomatis berkurang,” lanjut Tonny.
Dampaknya terasa nyata. Debit air yang masuk ke sistem drainase kota melonjak drastis.
Seperti saat hujan deras mengguyur Pacitan pada Jumat, 26 Desember 2025 lalu, setidaknya tiga titik drainase dilaporkan meluap.
Tiga lokasi itu meliputi Drainase Gerdon di Kelurahan Pucang Sewu, drainase di depan Kantor Kecamatan Pacitan, serta kawasan Blumbang di Kelurahan Sidoharjo.
PUPR menilai, perubahan tutupan lahan di wilayah perkotaan juga menjadi tantangan paling krusial dalam pengendalian banjir perkotaan Pacitan.
"Selain di hulu, wilayah resapan air di wilayah kota juga semakin sedikit. Itu juga mempengaruhi," paparnya.
Tanpa penanganan menyeluruh dari hulu ke hilir, banjir kota dikhawatirkan akan menjadi kejadian berulang.(*)
