KETIK, PACITAN – Platform digital kemitraan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang dikelola di desa-desa Kabupaten Pacitan ternyata telah lama meredup.
Selama dua tahun terakhir, perannya nyaris tak terdengar, padahal sebelumnya pernah mengharumkan nama daerah di tingkat Jawa Timur.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Diskominfo Pacitan, Ria Anggara Purna, S.Sos., M.M., menyebut kini pihaknya harus mulai merajut dari awal kembali.
"Ini belum tahu akhirnya, ya harus mulai dari nol lagi," sebut Ria kepada Ketik.com, baru-baru ini.
Padahal, imbuh Ria, KIM Pacitan pernah menempati posisi tiga besar terbaik di tingkat provinsi.
Namun, capaian itu terhenti setelah aktivitas KIM vakum cukup lama.
"Dulu Pacitan itu sempat jadi urutan ketiga terbaik. Tapi dua tahun setelah itu mati," katanya.
Kevakuman tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah. Dari puluhan desa yang pernah mengelola KIM, kini hanya satu yang masih bertahan menjalankan perannya.
"Yang masih aktif cuma satu, di Desa Ngumbul, Tulakan," ujarnya.
Dampak kevakuman itu disebut juga terasa hingga ke tingkat provinsi.
Pacitan sekarang tidak lagi bisa terlibat dalam berbagai agenda dan event KIM Jawa Timur karena terkendala administrasi dan Surat Keputusan (SK) yang sudah tidak aktif.
"Sampai kita ikut event di Jatim. Karena mati dua tahun, akhirnya tidak bisa andil lagi karena ada SK-nya," jelas Ria.
Pada tahun ini, Diskominfo Pacitan mulai merangkai ulang KIM dari awal. Meski program dasarnya sudah berjalan, pengelolaannya kini rencana akan dibuat lebih terarah.
"Programnya sebetulnya sudah jalan, tapi sekarang akan lebih diatur," katanya.
KIM desa nantinya diharapkan kembali menjadi corong informasi masyarakat.
Warga desa didorong untuk menampilkan potensi wilayahnya, mulai dari produk unggulan, keunikan lokal, hingga aktivitas desa melalui website dan konten media sosial.
"Tujuannya agar masyarakat desa bisa menampilkan produk, keunggulan, dan lainnya di website ataupun konten media sosial," tambahnya.
Selain program KIM yang mengacu komunikasi dan informasi di tingkat desa, Diskominfo Pacitan juga menyoroti perkembangan jumlah jurnalis di Pacitan yang terus bertambah.
Saat ini tercatat sebanyak 67 jurnalis aktif dari berbagai perusahaan media.
Ria menyampaikan bahwa ada harapan penyelenggaraan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bisa digelar di tahun-tahun mendatang.
"Ada rencana sebenarnya untuk penyelenggaraan UKW ke depan, tapi karena untuk mengadakan itu butuh anggaran. Sekarang yang lebih saya upayakan adalah merangkul semuanya. Saya jadikan mitra dulu," katanya.
Meski sangat berharap, ia mengaku kondisi daerah juga menjadi pertimbangan tersendiri.
"Kembali lagi karena Pacitan sebagai kota kecil itu sepertinya belum menjadi prioritas," pungkasnya.(*)
