KETIK, BREBES – Gelombang kekecewaan pasca Konferensi Cabang (Konfercab) mulai meluas dan tidak lagi terbatas di internal kader. Penetapan ketua terpilih yang dinilai mengabaikan aspirasi akar rumput kini memicu reaksi keras dari kalangan simpatisan partai di tingkat bawah.
Setelah sebelumnya sejumlah kader menyampaikan keberatan, barisan simpatisan PDI Perjuangan di Brebes turut menyuarakan sikap. Mereka menilai proses pengambilan keputusan dalam Konfercab berlangsung tidak demokratis dan cenderung dipaksakan oleh segelintir elite tanpa mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan melemahnya soliditas organisasi. Simpatisan menilai keputusan yang diambil berpotensi menjauhkan partai dari basis pendukungnya jika tidak segera dievaluasi.
"Kami kecewa. Harusnya pemimpin itu lahir dari suara yang ada di bawah, bukan sekadar penunjukan yang tidak mengakomodir keinginan basis. Kalau begini caranya, marwah demokrasi di organisasi ini sedang dipertaruhkan," ujar Suroso, simpatisan PDI-P dan mantan anggota DPRD Brebes periode 1999–2004 dari PDI-P, ditemui usai mengikuti aksi protes, Rabu, 14 Januari 2026.
"Sebenarnya ini wilayah internal partai. Namun sebagai simpatisan, kami juga punya pandangan. Intinya, kami merasa kecewa dengan hasil Konfercab,” tambah Suroso.
Sentimen kekecewaan tersebut dikhawatirkan berdampak pada loyalitas massa menjelang agenda politik mendatang. Sejumlah simpatisan menilai figur yang ditetapkan sebagai ketua terpilih tidak memiliki kedekatan emosional maupun rekam jejak kuat dengan kebutuhan konstituen di tingkat bawah.
Suroso juga menyebut para simpatisan akan terus mencermati dinamika internal partai. Mereka bahkan membuka kemungkinan untuk berkoordinasi dengan kader-kader yang sebelumnya telah menyatakan mundur dari kepengurusan.
Diketahui sebelumnya, sejumlah kader PDI-P Brebes menyatakan pengunduran diri dari struktur partai. Dua di antaranya, Asrofi dan Jamaludin, secara terbuka menyatakan mundur dari kepengurusan PDI-P Brebes.
Hingga berita ini diturunkan, gelombang penolakan masih ramai dibicarakan di berbagai forum warga. Para simpatisan mendesak adanya transparansi dalam proses seleksi kepemimpinan serta meminta partai kembali mendengarkan aspirasi murni dari akar rumput agar potensi perpecahan internal tidak semakin melebar. (*)
