Masjid al-Akbar Dipenuhi 40 ribu Jemaah, Ustaz Hanan Attaki Ajak "Caper ke Langit"

1 Maret 2026 17:01 1 Mar 2026 17:01

Thumbnail Masjid al-Akbar Dipenuhi 40 ribu Jemaah, Ustaz Hanan Attaki Ajak "Caper ke Langit"

Ustaz Hanan Attaki saat menyampaikan pesan tentang pentingnya “caper ke langit” dalam kajian Ramadan di Masjid Al-Akbar Surabaya. Foto: kahila/ketik.com

KETIK, SURABAYA – Surabaya kembali dipenuhi lautan manusia di awal Ramadan. Sekitar 40 ribu jemaah memadati Masjid Al-Akbar Surabaya dalam kajian bertajuk “Spirit of Ramadan: Saatnya Allah Jadi Prioritas” yang disampaikan Ustaz Hanan Attaki pada Minggu, 1 Maret 2026.

Rangkaian acara berlangsung khidmat sejak pagi. Open gate dibuka pukul 06.00 WIB.

Dalam ceramahnya, Ustaz Hanan mengangkat istilah yang akrab bagi generasi muda: caper (cari perhatian). Menurutnya, banyak orang keliru menempatkan perhatian hidupnya sehingga berujung kelelahan karena terlalu sibuk mencari validasi manusia.

Ia menyebut validasi tersebut sebagai “fake dopamin” yaitu terasa menyenangkan, tetapi hanya sesaat dan tidak pernah benar-benar memuaskan.

“Coba selama satu bulan ini kita 'caper' sama Allah. Pengen disayang sama Allah, diampuni sama Allah, diperhatiin sama Allah. Diganti modenya, selama Ramadan kita belajar caper sama Allah,” ajaknya.

Ia menegaskan, jiwa manusia tidak akan pernah puas dengan pujian sesama. Tubuh memang diciptakan dari tanah, tetapi jiwa berasal dari langit. Karena itu, kepuasan sejati hanya datang dari Allah, bukan dari tepuk tangan manusia.

Ketika menghadapi konflik dengan sesama, yang perlu dibenahi pertama kali bukan ego, melainkan hubungan dengan Allah. Caranya dengan memperbanyak dzikir, shalat, doa, taubat, dan istighfar. Dari situlah Allah akan mengislahkan (memperbaiki) relasi kita dengan manusia.

“Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah yang akan memperbaiki hubungannya dengan manusia,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Insyirah: “Alam nasyrah laka shadrak” (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?).

Menurutnya, sulitnya memaafkan sering kali berakar pada ego yang tinggi dan hati yang sempit.

“Sebelum shalat taubat, rasanya mau maafin berat banget, egonya tinggi banget. Tapi setelah taubat, Allah yang lapangkan dada," ucapnya.

Lapang dada (syafhus shadr) adalah buah dari kedekatan dengan Allah. Jika persoalan terasa berat, bisa jadi ego belum ditundukkan.

Foto Lautan jamaah memadati Masjid Al-Akbar Surabaya sejak pagi saat open gate kajian Ramadan, 1 Maret 2026.
Foto: Kahila/Ketik.comLautan jamaah memadati Masjid Al-Akbar Surabaya sejak pagi saat open gate kajian Ramadan, 1 Maret 2026. Foto: Kahila/Ketik.com

Ustaz Hanan kemudian merinci tiga langkah agar Ramadan benar-benar menjadi momentum perubahan.

Pertama, jadikan taubat sebagai lifestyle. Yakni, taubat bukan sekadar ritual sesekali, melainkan gaya hidup. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 222, Allah menyebutkan kecintaan-Nya kepada hamba yang gemar bertaubat.

Pintu taubat selalu terbuka—siang bagi yang berdosa di malam hari, dan malam bagi yang berdosa di siang hari. Dalam Surah Az-Zumar, Allah bahkan memanggil para pendosa dengan lembut: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri…”

Hadis riwayat Muslim ibn al-Hajjaj menyebutkan bahwa Allah lebih gembira atas taubat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.

“Kalau ingin dicintai Allah dan jadi trending topic di langit, sering-seringlah taubat,” tegasnya.

Kedua, yaitu Tambah Amalan Sunnah Setelah yang Wajib. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa seorang hamba mendekat kepada Allah dengan amalan wajib, lalu terus menambah amalan sunnah hingga Allah mencintainya.

Karena itu, jangan merasa cukup dengan yang wajib saja. Perbanyak dzikir sebagai kebiasaan harian, seperti tasbih 33 kali, tahmid, takbir, tahlil serta membiasakan diri bersyukur (muhasabah nikmat).

Ia juga mengingatkan bahwa Allah menugaskan malaikat untuk “hangout” mencari majelis dzikir di bumi. Bahkan, dzikir di pasar, tempat banyak orang lalai, memiliki pahala besar.

“Shalat itu koneksi dengan Allah. Bahkan Allah mengingat kita lebih besar daripada kita mengingat-Nya,” ujarnya.

Ketiga adalah “Caper” dalam Sunyi. Amal tersembunyi memiliki kedudukan istimewa. Dalam hadis riwayat Ahmad, Allah mencintai hamba yang bertakwa dan menyembunyikan amalnya (khafi).

Salah satu dari tujuh golongan yang mendapat pertolongan di Padang Mahsyar adalah mereka yang beramal diam-diam. Sahabat Nabi, Abbas ibn Abd al-Muttalib, dikenal memiliki amalan rahasia berupa sedekah setiap malam tanpa diketahui orang lain.

“ini sulit sekali apalagi untuk gen-z yang Sukanya apa-apa diposting tapi, kalau kita bisa maka kita akan trending di langit, bukan di bumi” pesannya.

Menutup kajian, Ustaz Hanan mengajak jamaah mengubah orientasi hidup selama Ramadan. “Mari kita ubah life goals kita. Cara caper kita. Untuk bulan puasa ini, kita caper di langit. Trending di langit," katanya.

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum memperbaiki hubungan dengan Allah. Ketika relasi dengan-Nya baik, urusan dengan manusia pun akan Allah perbaiki. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ust. Hanan Attaki surabaya Masjid Al Akbar Spiritof Ramadan Caper ke Allah Puasa 2026