Melihat Seremoni Pelantikan Wali Kota New York, Begitu Sederhana Dibanding Indonesia

2 Januari 2026 18:38 2 Jan 2026 18:38

Thumbnail Melihat Seremoni Pelantikan Wali Kota New York, Begitu Sederhana Dibanding Indonesia
Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, resmi dilantik dalam upacara terbatas di stasiun kereta bawah tanah terbengkalai yang bersejarah pada tengah malam Tahun Baru 2026, Kamis (1/1/2026). (Foto: REUTERS)

KETIK, JAKARTA – Seremonial pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York ke-110 kontras dibandingkan dengan pelantikan pejabat publik di Indonesia yang umumnya digelar di gedung-gedung megah, sarat tata protokoler, pengamanan ketat, serta rangkaian acara yang mewah.

Pengambilan sumpah jabatan digelar secara sederhana pada malam pergantian tahun 2026, Kamis, 1 Januari 2026, di sebuah stasiun kereta bawah tanah bersejarah yang telah lama ditutup, tepat di bawah Balai Kota New York.

Pengambilan sumpah tersebut berlangsung jauh dari kesan berlebihan. Tanpa karpet merah, tanpa protokol berlapis, dan tanpa perayaan kekuasaan.

Lokasi stasiun bawah tanah dipilih sebagai simbol keberpihakan kepada warga pekerja yang selama ini menjadi denyut nadi kota.

Politisi kelahiran Afrika dan keturunan India itu resmi mencatat sejarah sebagai pemimpin Muslim pertama di kota terbesar Amerika Serikat. 

Mamdani mengucapkan sumpah jabatan di atas Al-Quran berusia ratusan tahun, sebuah momen yang sarat makna simbolik dan sejarah.

Usai pelantikan terbatas, Mamdani menyampaikan pidato publik di luar Balai Kota New York. 

Di hadapan sekitar 4.000 orang, ia berbicara hampir 25 menit dan menyampaikan arah kepemimpinannya yang berlandaskan ideologi sosialis demokratik.

“Saudara-saudara sebangsa New York, hari ini dimulailah era baru,” ujar Mamdani, dikutip dari REUTERS, Jumat, 2 Januari 2026.

“Saya terpilih sebagai sosialis demokratik dan saya akan memerintah sebagai sosialis demokratik. Saya tidak akan meninggalkan prinsip-prinsip saya karena takut dianggap radikal,” lanjutnya.

Dalam pidato tersebut, Mamdani menyampaikan sejumlah agenda utama, di antaranya layanan penitipan anak universal, pembekuan sewa rumah, bus gratis, serta pajak bagi warga terkaya untuk mendanai program sosial.

Ia juga menyatakan sikapnya menolak pengaruh kekayaan dan kekuasaan dalam pemerintahan kota.

“Saya akan bertanggung jawab kepada rakyat, bukan kepada miliarder atau oligarki mana pun yang mengira mereka dapat membeli demokrasi kita,” katanya.

Menurut Mamdani, publik ingin melihat apakah kelompok sayap kiri mampu memerintah dan menyelesaikan persoalan nyata warga.

“Kita akan melakukan sesuatu yang dilakukan warga New York lebih baik daripada siapa pun: kita akan menjadi contoh bagi dunia,” ujarnya.

Upacara pelantikan tersebut dihadiri sejumlah tokoh progresif, termasuk Senator Bernie Sanders dan anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez.

Ocasio-Cortez memuji kemenangan Mamdani sebagai respons atas situasi politik nasional Amerika Serikat yang dinilainya belum pernah terjadi sebelumnya, dengan merujuk pada pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Ribuan warga memadati pusat kota Manhattan untuk menyaksikan momen pelantikan itu. Banyak pendukung terlihat mengenakan topi rajut kuning dan biru bertuliskan “Zohran”.

“Ini adalah pertama kalinya dalam hidup kami merasakan harapan politik,” kata Jacob Byerly, seorang ilmuwan berusia 31 tahun.

Mamdani memulai masa jabatannya di tengah ketegangan politik nasional, termasuk potensi perbedaan sikap dengan pemerintah federal terkait anggaran dan kebijakan imigrasi.

Ia menyatakan komitmennya untuk melindungi komunitas imigran yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan New York.(*)

Tombol Google News

Tags:

Zohran Mamdani wali kota new york Pelantikan Wali Kota Politik Amerika Serikat Seremoni Pejabat Perbandingan Indonesia AS Kepemimpinan Publik