KETIK, SURABAYA – Pameran seni rupa Hidden Potion resmi digelar di ARTSPACE, lantai UG Artotel TS Suites Surabaya, pada Jumat, 23 Januari 2026. Pameran ini menghadirkan total 26 karya dan dapat dikunjungi oleh publik hingga 26 April 2026.
Berangkat dari Komunitas Forum Aliansi yang beranggotakan para alumni SMK Negeri 12 Surabaya, Hidden Potion menampilkan karya dari lima seniman yang telah diseleksi, yaitu: Ahmad Fahrizal Irsadi, Septian Adi Persana, Putri Setyowati, Yotandh, dan Izzar Fakhruddin.
Salah satu seniman yang turut ambil bagian adalah Intan Dwi Ariyanti, yang dikenal dengan nama pena Yotandh. Seniman kelahiran Mojokerto, 12 Februari 2001 yang saat ini berdomisili di Surabaya. Ia dikenal melalui karya-karya beraliran semi-abstrak dengan pendekatan personal dalam berkarya.
Yotandh mulai aktif berkarya sejak tahun 2020. Meski sebelumnya telah menempuh pendidikan jurusan seni lukis di SMK Negeri 12 Surabaya, ia mengaku baru menemukan gaya lukisan yang paling merepresentasikan dirinya saat melanjutkan studi Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Lukisan dari Yotandh yang berjudul Lovely Wolf (kiri) dan Hatty One (kanan) dalam pameran Hidden Possion yang digelar pada Jumat, 23 Januari 2026. (Foto: Michelle Gabriela/Ketik.com)
Beberapa karya Yotandh yang dipamerkan dalam Hidden Potion antara lain Coily Sweety, Lovely Wolf, Hatty Obe, dan 3nitty Gitty. Salah satu karya yang turut dipamerkan, Hatty One, dikerjakan dalam waktu dua hari.
Dalam proses berkarya, Yotandh menggunakan teknik pensil dengan eksplorasi warna sebagai sentuhan akhir. Ia mengaku pernah mencoba menggunakan cat, namun belum menemukan kecocokan.
“Sebelumnya mungkin memang sudah pakai yang cat juga tapi memang feel-nya belum dapat pakai cat, tapi untuk beberapa tahap kalau saya pengen banget nih pakai warna tetap paling mentok di pensil warna,” ujarnya.
Meski demikian, Yotandh menyadari bahwa medium pensil memiliki keterbatasan, terutama dalam ketahanan jangka panjang. Untuk mengatasinya, ia menggunakan lapisan fixative spray agar karyanya lebih tahan lama.
Menariknya, karya-karya Yotandh justru lebih banyak diterima oleh pasar seni di Bandung. Tercatat ada 23 karyanya yang terjual habis di kota tersebut, menunjukkan respons positif terhadap pendekatan visual yang ia tawarkan.
Selain aktif berpameran, Yotandh juga berprofesi sebagai guru seni di Sekolah Kristen St. Maria Rungkut, Surabaya.
Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan mengikuti sejumlah pameran di berbagai kota, seperti Malang, Jogja, Pasuruan, Surabaya, yang digelar oleh Dinas Kebudayaan. (*)
