Responsif! BPBD Jatim Cek Kondisi 71 EWS di Daerah Rawan Bencana

5 Maret 2026 22:05 5 Mar 2026 22:05

Thumbnail Responsif! BPBD Jatim Cek Kondisi 71 EWS di  Daerah Rawan Bencana

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur melakukan pengecekan perangkat Early Warning System (EWS) di salah satu wilayah rawan bencana di Jawa Timur guna memastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal di tengah potensi cuaca ekstrem. (Foto: Humas BPBD Jatim)

KETIK, SURABAYA – Meningkatnya kejadian bencana di tengah musim cuaca ekstrem mendapat respons oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur dengan memperkuat langkah kesiapsiagaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan pengecekan kondisi peralatan Early Warning System (EWS) yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur.

Dalam sepekan terakhir, kegiatan pemeriksaan EWS diawali di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya pada sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran pada Senin, 2 Maret 2026.

Setelah itu, pengecekan dilanjutkan ke sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek hingga Kabupaten Pacitan.

Secara keseluruhan, terdapat 71 unit EWS yang direncanakan untuk diperiksa, terdiri dari 27 EWS banjir, 27 EWS longsor, serta 17 sirine tsunami. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan kondisi fisik perangkat serta fungsinya tetap optimal sebagai sistem peringatan dini bagi masyarakat di sekitarnya.

Kepala Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember, Abdul Ghafur, mengaku keberadaan EWS banjir di wilayahnya sangat membantu masyarakat.

Ia menjelaskan, sekitar 800 kepala keluarga yang tinggal di dua dusun di desanya kerap menerima peringatan dini melalui alarm EWS ketika debit air sungai mulai meningkat.

"Warga desa kami masih banyak yang sering mandi di sungai, meski mereka sudah punya kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik," terangnya.

Manfaat EWS juga dirasakan oleh masyarakat di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Perangkat desa setempat, Candra Kristianto, mengatakan EWS longsor yang terpasang di wilayahnya sangat membantu sebagai alat deteksi dini bagi warga.

Menurutnya, perangkat EWS yang berada di kaki Bukit Kelopo Kembar tersebut mampu memberikan peringatan dini jika potensi longsor terjadi di kawasan tersebut.

"Sudah beberapa kali kami coba, suara alarmnya cukup keras, terdengar hingga di perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer," ujarnya kepada tim BPBD Jatim.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Heri, warga Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Jember, terkait manfaat EWS tsunami di wilayahnya.

Menurutnya, selain sirine peringatan, speaker yang digunakan saat uji coba EWS juga sering dimanfaatkan untuk memberikan pengumuman kepada para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pantai Cemara yang berada di sekitar lokasi EWS.

"Speaker itu biasa kami gunakan untuk memberikan peringatan kewaspadaan kepada para pengunjung yang biasa datang bersama anak-anak, agar tidak lengah memantau anak-anaknya yang saat bermain di pantai," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lumajang, Sultan Syafaat, yang turut mengikuti kegiatan pengecekan EWS menjelaskan bahwa terdapat empat perangkat EWS milik BPBD Jatim yang berada di wilayah Lumajang, meliputi EWS banjir, longsor, dan sirine tsunami.

Ia menilai keberadaan perangkat tersebut sangat penting sebagai sarana deteksi dan peringatan dini bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

"Yang dibutuhkan EWS ini adalah pemeliharaan dan pengecekan secara berkala seperti saat ini. Saya kira yang perlu terus dilakukan," sarannya.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto menegaskan bahwa selama periode cuaca ekstrem yang masih berlangsung, pihaknya terus mengajak berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti banjir, longsor dan tsunami.

"Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami cek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya," jelasnya.

Ia berharap selama cuaca ekstrem masih terjadi, masyarakat, relawan serta personel BPBD di tingkat kabupaten/kota dapat terus bekerja sama dalam meningkatkan kesiapsiagaan guna meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi.

"Sebetulnya, perkembangan EWS di Jatim ini bisa kami pantau lewat dashboard di kantor. Namun, pengecekan langsung ke lapangan juga perlu dilakukan, agar kami bisa mengetahui kondisi riil EWS di lokasi, supaya bisa menjadi alat deteksi dini bagi masyarakat sekitar jika terjadi bencana," tuturnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

BPBD Jawa Timur cuaca ekstrem early warning system EWS mitigasi bencana banjir Longsor tsunami kesiapsiagaan bencana Jawa timur