KETIK, HALMAHERA SELATAN – Di tengah derasnya isu negatif mengenai dampak lingkungan pertambangan nikel, penelusuran langsung di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, menunjukkan gambaran yang berlawanan dengan narasi yang beredar. Warga yang bermukim di wilayah lingkar tambang menyatakan kondisi sumber daya alam, terutama perikanan dan air bersih, masih aman dan layak dikonsumsi.
Yulius Langkodi, warga asli Kawasi, mengatakan hingga kini masyarakat setempat masih mengandalkan Mata Air Todoku—yang juga dikenal sebagai Mata Air Kawasi—sebagai sumber utama air bersih. Menurut dia, kehadiran perusahaan justru memperbaiki fasilitas distribusi air bagi warga.
“Sekarang, sudah ada perusahaan, mereka beri fasilitas yang lebih baik dengan menyambungkan pipa ke rumah-rumah warga. Jadi urusan air ini kita sudah nyaman,” kata Yulius Rabu 17 Desember 2025.
Secara historis, mata air tersebut telah lama dikenal oleh para tetua kampung. Dalam sebutan lokal, mata air ini disebut Air Babunyi atau Air Ruruhu dalam bahasa Tobelo-Galela, merujuk pada suara gemuruh air yang terdengar hingga ke permukiman warga. Saat ini, pemanfaatannya dilakukan dengan sistem yang lebih tertata setelah pipa air disambungkan langsung ke rumah-rumah warga.
“Untuk mata air, kami warga Kawasi semua mengonsumsi air dari Mata Air Todoku. Memang ada sebagian yang minum dari air galon, tapi sebagian besar dari Mata Air Todoku,” ujar Yulius menambahkan.
Terkait isu pencemaran laut, Yulius secara tegas membantah adanya dampak serius terhadap sektor perikanan. Ia menilai kondisi perairan di sekitar Kawasi hingga Mala Mala masih produktif dan aman bagi aktivitas nelayan.
“Saya asli Kawasi. Terkait ikan di Kawasi dan Mala Mala sana masih segar untuk dimakan. Kami sering berjaring di sini, sampai ke Mala Mala sana,” katanya.
Ia menuturkan aktivitas melaut dan menangkap ikan masih berjalan normal seperti sebelumnya. Hasil tangkapan nelayan pun tidak hanya dijual, tetapi juga dikonsumsi sehari-hari oleh keluarga.
“Jadi sudah nyaman lah, karena kalau tidak nyaman tidak mungkin kita makan maupun minum di desa ini,” ucap Yulius.
Menurut Yulius, sebagian besar warga Kawasi tidak lagi terpengaruh oleh isu lingkungan yang beredar, terutama terkait dugaan pencemaran laut. Mereka menilai kondisi nyata di lapangan tidak sejalan dengan kekhawatiran yang selama ini ramai disuarakan..
