KETIK, ACEH TIMUR – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur terus menggenjot percepatan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak bencana. Hingga Senin, 2 Februari 2026, progres pembangunan Huntara telah mencapai 1.367 unit skema insitu dan 201 unit skema komunal. Jumlah tersebut merupakan bagian dari total keseluruhan Huntara yang direncanakan sebanyak 2.592 unit.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan Huntara menjadi prioritas pemerintah daerah agar masyarakat segera keluar dari kondisi darurat dan dapat menempati hunian yang lebih layak.
“Kita fokus mengejar progres pembangunan Huntara di seluruh wilayah terdampak. Target kita jelas, masyarakat harus segera mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman dan manusiawi. Karena itu, koordinasi dengan semua pihak terus kita perkuat,” ujar Al-Farlaky dalam keterangan resminya, Selasa, 3 Februari 2026.
Berdasarkan laporan sementara progres harian, total rumah rusak berat di Aceh Timur tercatat sebanyak 3.844 unit. Sementara itu, Data Terverifikasi Hunian mencapai 432 unit, dengan 373 unit telah terbit rekening dan sisanya masih dalam proses validasi.
Pembangunan Huntara dilaksanakan oleh 24 vendor melalui dua skema, yakni insitu dan komunal. Untuk skema insitu, dari total 2.592 unit yang direncanakan, sebanyak 198 unit telah selesai 100 persen, 439 unit berada pada progres di atas 50 persen, dan 730 unit masih di bawah 50 persen. Material bangunan juga telah tersedia di lokasi untuk 1.225 unit.
Adapun pembangunan Huntara skema komunal menunjukkan progres sebanyak 201 unit. Dari jumlah tersebut, 102 unit telah rampung sepenuhnya. Material bangunan telah tersedia untuk 85 komunal, sementara pematangan lahan masih berlangsung di Kecamatan Simpang Jernih dan Kecamatan Serba Jadi.
Al-Farlaky menyampaikan bahwa pemerintah daerah tidak hanya mengejar penyelesaian pembangunan, tetapi juga memastikan kualitas bangunan serta ketepatan sasaran penerima manfaat.
“Kami meminta seluruh pelaksana di lapangan bekerja sesuai standar. Huntara ini bukan sekadar bangunan, tetapi tempat masyarakat memulai kembali kehidupan mereka setelah bencana,” katanya.
Secara kumulatif, Kecamatan Pante Bidari menjadi wilayah dengan penerima manfaat terbanyak, yakni 1.541 unit. Jumlah tersebut disusul kecamatan lain seperti Rantau Peureulak, Serba Jadi, dan Simpang Jernih.
Pemerintah Kabupaten Aceh Timur memastikan pengawasan di lapangan akan terus ditingkatkan agar pembangunan Huntara berjalan sesuai target dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat terdampak bencana. (*)
