KETIK, MALUKU UTARA – Maluku Utara menguat sebagai salah satu pusat utama investasi hilirisasi nasional. Pada 2025, provinsi ini tercatat masuk dalam jajaran lokasi terbesar penyumbang investasi hilirisasi di Indonesia, seiring masih terkonsentrasinya proyek hilirisasi terutama sektor mineral di luar Pulau Jawa.
Hal tersebut disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Roeslani, dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa 3 Februari 2026.
Ia menegaskan, kontribusi investasi hilirisasi terhadap total investasi nasional pada 2025 melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dari total investasi yang masuk, 30,2% berasal dari hilirisasi dan nilainya mencapai Rp584,1 triliun, meningkat 43,3% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Lonjakan tersebut memperkuat posisi daerah-daerah di luar Jawa sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi berbasis hilirisasi.
Maluku Utara, bersama Sulawesi Tengah, menempati dua posisi teratas sebagai lokasi hilirisasi terbesar, menandai peran strategis kawasan timur Indonesia dalam peta investasi nasional.
Meski investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral, pemerintah mencatat geliat baru dari sektor non mineral.
Hal ini dinilai positif bahwa diversifikasi investasi mulai berjalan, membuka ruang pertumbuhan bagi sektor lain dan memperluas dampak ekonomi ke daerah.
“Kami melihat investasi non-mineral dari hilirisasi juga sudah mulai berjalan,” katanya.
Dari lima lokasi hilirisasi terbesar nasional, mayoritas berada di luar Pulau Jawa, termasuk posisi keempat yang juga ditempati daerah non Jawa.
Fakta tersebut menunjukan bahwa Maluku Utara dan wilayah sekitarnya kini menjadi episentrum baru hilirisasi, sekaligus tumpuan pemerataan investasi dan penguatan ekonomi nasional ke depan. (*)
