KETIK, MALANG – Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) kembali mengajukan Ali Sastroamidjojo untuk memperoleh gelar sebagai Pahlawan Nasional di 2026. Pengusulan tersebut dilatarbelakangi oleh kontribusi Ali Sastroamidjojo terhadap solidaritas global yang dibangun atas nama bangsa Indonesia.
Dokumen usulan telah diserahkan oleh Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan (KAPUSDIPWASBANG) UNITRI, Agustinus Ghunu, kepada Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Firdaus Sulistijawan, pada 20 Februari 2026 lalu.
Agustinus menjelaskan Ali Sastroamidjojo merupakan Perdana Menteri Republik Indonesia periode 1953 sampai 1955 dan 1956 hingga 1957. Ia memiliki andil besar dalam menghadirkan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.
Forum tersebut menjadi tonggak solidaritas negara Asia dan Afrika yang baru merdeka di tengah gejolak Perang Dingin. Saat itu Indonesia sempat diragukan oleh negara-negara peserta KAA, termasuk Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Namun, Ali berhasil meyakinkan para petinggi negara Asia dan Afrika hingga terbentuk kekuatan moral bagi negara-negara dunia ketiga.
"Ali Sastroamidjojo adalah figur pejuang yang totalitas, tidak setengah-setengah dalam berjuang. Keteladanan inilah yang perlu diwariskan kepada generasi masa kini, yang berani, visioner, pejuang dan petarung dan berkomitmen kuat terhadap masa depan Indonesia," ujarnya, Sabtu, 21 Februari 2026.
Menurutnya, dengan mengusulkan Ali Sastroamidjojo untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, anak-anak muda dapat meniru semangat perjuangannya. Bahwa intelektualitas dapat digunakan sebagai alat tempur dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun solidaritas antar negara.
"Pengusulan kembali ini merupakan bentuk konsistensi moral dan komitmen akademik dalam memperjuangkan penghargaan negara bagi tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan dan diplomasi Indonesia," tegasnya.
Ia berharap di tahun ini gelar Pahlawan Nasional dapat segera disandang oleh pejuang yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta itu.
“Doa dan dukungan seluruh elemen bangsa sangat kami harapkan agar jasa dan keteladanan beliau mendapatkan pengakuan yang layak dari negara,” ucapnya.
Firdaus Sulistijawan turut mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Unitri. Menurutnya pengusulan gelar kepahlawanan memiliki dimensi strategis dalam pembangunan karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda.
“Di era Gen Z dan generasi milenial di tengah konstelasi pendidikan yang terus berkembang, kita perlu meningkatkan patriotisme, memperkuat rasa kebangsaan, serta menghargai para pendiri bangsa. Proses pengusulan gelar pahlawan ini menjadi pembelajaran penting bagi generasi penerus,” ujarnya. (*)
