Kenduri Durian Wonosalam 2026 Ditiadakan, Ini Dampaknya Bagi Wisata Jombang

21 Februari 2026 15:57 21 Feb 2026 15:57

Thumbnail Kenduri Durian Wonosalam 2026 Ditiadakan, Ini Dampaknya Bagi Wisata Jombang

Kenduri durian tahun 2025. (Foto: Syaiful Arif/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Agenda tahunan Kenduri Durian (KenDuren) di Wonosalam, Kabupaten Jombang, dipastikan tidak digelar pada 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul turunnya produksi durian lokal secara drastis akibat cuaca yang tidak menentu dalam dua musim terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang, Hartono, menjelaskan pembatalan dilakukan setelah menerima laporan resmi dari para kepala desa se-Kecamatan Wonosalam mengenai kondisi panen yang merosot tajam.

“Dengan berat hati Kenduri Durian Wonosalam tahun ini ditiadakan. Produksi durian mengalami penurunan signifikan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, karena dampak cuaca,” kata Hartono, Sabtu, 21 Februari 2026.

Penurunan produksi durian di Wonosalam bukan hanya terjadi tahun ini. Pada 2025, hasil panen disebut telah turun sekitar 50 persen dibanding kondisi normal. Memasuki 2026, penurunan kembali terjadi hingga tersisa sekitar 20 persen dari produksi rata-rata tahunan.

Artinya, dalam dua tahun terakhir, petani durian Wonosalam menghadapi situasi yang tidak ideal untuk mendukung agenda wisata berbasis hasil panen tersebut.

Hartono menyebut para kepala desa telah berkoordinasi dengan Bupati Jombang, Warsubi, guna melaporkan kondisi gagal panen yang dialami mayoritas petani.

Sempat muncul usulan agar Kenduri Durian tetap digelar dengan mendatangkan durian dari luar daerah. Namun, wacana tersebut tidak mendapat persetujuan dari masyarakat maupun petani.

Menurut Hartono, penggunaan durian luar justru berpotensi mengurangi nilai khas dan identitas durian Wonosalam yang selama ini menjadi daya tarik utama wisatawan.

“Kalau dipaksakan membeli dari luar, itu akan mengurangi nilai dan kualitas durian Wonosalam sendiri. Masyarakat dan petani tidak menghendaki hal itu,” ujarnya.

Selain kuantitas yang terbatas, kualitas buah juga belum bisa dipastikan optimal karena pengaruh cuaca ekstrem. Pemerintah daerah menilai, jika acara tetap digelar dalam kondisi tersebut, risiko kekecewaan pengunjung cukup besar.

Salah satu petani durian di Wonosalam, Sulis mengungkapkan mayoritas petani mengalami gagal panen. 

Ia memperkirakan peluang digelarnya Kenduri Durian tahun ini sangat kecil.

“Melihat kondisi sekarang, kemungkinan besar tidak ada kenduri. Produksi buah menurun drastis,” katanya.

Menurutnya, pohon durian banyak yang tidak berbuah optimal akibat pola hujan yang tidak stabil. Situasi ini berdampak langsung pada ketersediaan stok untuk kebutuhan pasar, apalagi untuk acara berskala besar seperti Kenduri Durian.

Kenduri Durian selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata tahunan di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Agenda tersebut tidak hanya menjadi perayaan hasil panen, tetapi juga sarana promosi produk pertanian lokal dan penggerak ekonomi warga.

Ditiadakannya Kenduri Durian 2026 menjadi sinyal penting bahwa sektor pertanian, khususnya komoditas durian Wonosalam, sangat bergantung pada stabilitas cuaca.

Pemerintah daerah pun memilih langkah konservatif dengan menunda agenda daripada memaksakan pelaksanaan tanpa dukungan produksi yang memadai.

Keputusan ini diharapkan dapat menjaga reputasi durian Wonosalam sekaligus memberi ruang pemulihan bagi petani sebelum festival kembali digelar pada musim panen yang lebih baik.(*)

Tombol Google News

Tags:

kenduri durian wonosalam durian wonosalam kenduri durian wonosalam jombang Kenduren Wonosalam Gagal Panen durian jombang