Transformasi Trilogi Peran Guru

5 Januari 2026 15:39 5 Jan 2026 15:39

Thumbnail Transformasi Trilogi Peran Guru
Oleh: Muhammad Yunus*

Ki Hajar Dewantara (1889-1959), Bapak Pendidikan Indonesia, menyampaikan trilogi peran guru yang sangat populer: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Trilogi ini menjadi mantra ampuh yang ditiupkan kepada guru untuk menjalankan profesinya dengan sangat baik.

Sementara itu Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025 pada tanggal 28 November 2025 lalu menegaskan prioritas program pemerintah bidang SDM Unggul sebagai salah satu Asta Cita berupa digitalisasi pendidikan guna mencapai akselerasi kualitas pendidikan yang bermutu, di samping tentu komitmen terhadap kesejahteraan dan perlindungan guru.

Komitmen kebijakan itu diwujudkan pengiriman layar interaktif ke seluruh 288 ribu sekolah di seluruh Indonesia (target selesai akhir Desember 2025/awal Januari 2026) yang secara bertahap akan ditambah perangkat digital 3 layar per sekolah di tahun berikutnya, dan 2 layar di tahun selanjutnya, guna memastikan setiap kelas memiliki akses ke teknologi. Harapannya satu pemerataan akses pendidikan dan peningkatan mutu. 

Kebijakan pemerintah ini patut diapresiasi, namun pemenuhan sarana prasarana yang adaptif perkembangan digital perlu dijawab dengan guru yang mumpuni. Inilah pentingnya redefinisi trilogi peran guru menjadi transformasi trilogi peran guru bukan sekedar slogan tapi aksi nyata.

Ing Ngarsa Sung Tulada

Teladan (tulada) guru pada masa lalu hanya berfokus pada kesantunan, kedisiplinan, dan moralitas dalam interaksi fisik. Kini, tulada tersebut haruslah beralih pada ranah digital. Guru masa kini haruslah mahir bukan hanya pada penggunaan perangkat dan aplikasinya tetapi juga memahami cara kerja dan dampak dari ekosistem digital. Penting kiranya guru harus mampu mengintegrasikan teknologi dalam kelas yang ditopang dengan praktik pedagogis yang baik. 

Tulada berikutnya, jika kita masih sepakat bahwa guru itu digugu dan ditiru, maka tulada guru sebagai digital citizenship mutlak dimiliki guru. Perilaku guru di ruang publik digital (media sosial, grup chat) kini menjadi perpanjangan dari otoritas dan kepribadian mereka di kelas. 

Jika dulu guru ditiru dari perilaku fisik, cara berjalan, cara berbicara, cara berbusana, maka sekarang guru harus mampu berperilaku baik cara bermedia sosial. “Maha Benar Netizen dengan Segala Komentarnya” harus dijawab oleh guru dengan kebenaran yang hakiki. 

Transformasi Ing Ngarsa Sung Tulada menjadikan guru tidak hanya sebagai penunjuk moral tradisional, tetapi sebagai penunjuk jalan untuk bertahan dan berkembang secara etis di tengah kompleksitas dunia virtual.

Ing Madya Mangun Karsa

Kita sangat paham guru harus inspiratif bagi murid-muridnya, pembangkit semangat belajar siswa. Namun era digital peran itu harus ditingkatkan menjadi fasilitator pembelajaran, konduktor orkestra belajar. 

Melimpahnya sumber belajar digital tidak cukup hanya sekedar disampaikan kepada siswa tapi harus didesain sedemikian rupa agar sumber belajar itu menjadi berdampak besar. Penyampaian materi tidak cukup lagi dengan menyampaikan ‘apa’ tetapi harus masuk pada ranah ‘bagaimana’ dan ‘berguna’ pada penyelesaian masalah yang dihadapi oleh masyarakat. 

Pembelajaran berdiferensiasi, deep learning sebagai pendekatan, pembelajaran berbasis pada masalah, dan tugas yang sifatnya projek harus mampu dirancang dengan baik. Penanaman mindset yang baik dan menjadi siswa sebagai student agency harus menjadi program utama bagi guru. 

Transformasi Ing Madya Mangun Karsa adalah tentang mengubah kelas dari tempat transfer ilmu menjadi laboratorium inovasi. Guru yang sukses membangun semangat adalah guru yang menciptakan lingkungan yang aman untuk gagal dan memberi ruang yang luas untuk berkreasi.

Tut Wuri Handayani

Handayani (dorongan) yang paling utama diera digital saat ini adalah kesehatan mental. Sudah banyak dampak negatif dari penggunaan digital yang tidak bersahabat yang mengakibatkan penurunan mentalitas murid saat ini. Transformasi handayani bisa diwujudkan dari pengarah moral menjadi penjamin keamanan digital. 

Guru harus mampu mengajar dan mendidik siswa cara mengidentifikasi dan menghindari ancaman digital, seperti hoaks, phishing, hingga cyberbullying. Disamping itu keseimbangan digital (digital detox) juga harus didorongkan kepada para murid agar tercipta keseimbangan dan harmoni hidup.

Akhirnya transformasi trilogi peran guru ini mutlak diwujudkan sebagai respon implementasi Asta Cita, dengan memegang prinsip tetap melestarikan trilogi lama sembari menyesuaikan dengan perkembangan digital, al-Muhafadhah 'alal Qadimis Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah, pelihara trilogi peran guru klasik sembari melakukan transformasi di era digital. 

Semoga guru semakin profesional sebagai wujud nyata Asta Cita.

*) Muhammad Yunus merupakan Wakil Rektor 3 Universitas Islam Malang dan Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

opini guru Muhammad Yunus