KETIK, BATU – Timbunan sampah di Pasar Among Tani, Kota Batu, yang menimbulkan bau tidak sedap, dikeluhkan pedagang serta pengunjung. Timbunan sampah diperkirakan capai puluhan ton.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu menangani timbunan sampah dalam waktu dua hingga tiga hari. Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi, timbulan sampah di Pasar Among Tani berasal dari dua aktivitas utama, yakni pasar pagi dan gabungan sejumlah pasar induk.
“Dari pasar pagi, timbulan sampahnya sekitar satu ton per hari. Sementara gabungan dari pasar induk, pasar sayur, pasar unggas, dan pasar grosir mencapai sekitar 1,5 ton per hari. Jadi totalnya kurang lebih 2,5 ton sampah per hari,” jelasnya, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia menambahkan, karakteristik sampah yang dihasilkan mayoritas merupakan sampah organik. Akumulasi sampah yang tidak tertangani dalam jangka waktu lama menyebabkan penumpukan dalam jumlah besar.
“Jika dihitung berdasarkan kapasitas dump truck yang memuat sekitar tiga hingga empat ton, estimasi kami saat ini terdapat lebih dari 20 dump truck sampah. Artinya volumenya bisa mencapai sekitar 60 sampai 80 ton,” ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa timbunan sampah tersebut diperkirakan telah mengendap dalam waktu cukup lama.
“Kalau dikalkulasikan, sampah ini sudah tertumpuk sekitar tiga sampai empat bulan,” pungkasnya.
Menurut Dian, DLH Kota Batu menargetkan pembersihan total timbunan sampah tersebut dalam waktu dua hingga tiga hari, dengan mengerahkan jasa pengangkutan pihak ketiga agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
“Kami targetkan bisa kami nolkan dalam dua sampai tiga hari, semakin cepat semakin baik. Penanganannya melibatkan rekan-rekan penyedia jasa pengangkutan,” katanya.
Ia menegaskan, sampah dari Pasar Among Tani tersebut tidak dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) maupun diproses di TPS3R lainnya, melainkan ditangani secara khusus melalui skema pengangkutan yang telah disiapkan. (*)
