KETIK, SURABAYA – Setiap Ramadan, banyak muslim membaca Al-Qur’an dengan semangat tinggi. Target khatam 30 juz sering menjadi ukuran kesuksesan ibadah. Namun, apakah membaca cepat dengan jumlah banyak otomatis berarti lebih baik? Atau sebenarnya yang terpenting adalah pemahaman dan penghayatan atas ayat-ayat yang dibaca?
Realitasnya, budaya target bacaan kadang membuat umat terburu-buru mengulang juz demi juz tanpa benar-benar merenungkan maknanya. Ini sering terjadi terutama dalam grup tadarus atau komunitas online yang berlomba “satu juz per hari”.
Pakar agama internasional, Mufti Menk, pernah menegaskan bahwa tujuan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan adalah kualitas, bukan sekadar kuantitas bacaan. Dalam sebuah ceramahnya yang diunggah secara daring, beliau mengatakan bahwa tujuan bukanlah “selesai menghatamkan Al-Qur’an”, tetapi justru menghadirkan kualitas dalam bacaan itu sendiri.
Dalam penjelasan itu, beliau menyatakan secara gamblang:
“The idea is never ever to complete the Quran. Did you know that? The idea was never ever to complete the entire Quran… the idea is quality. If the quality is there, then you may complete the entire Quran. If the quality is not there, trust me, you rather read from [a certain verse] to the end… And you will achieve a bigger reward for quality than to go in for quantity.”
Artinya, kalau kita hanya fokus pada selesai 30 juz tanpa memperhatikan pemahaman dan ketelitian bacaan, pahala dan makna yang sebenarnya ingin dicapai dari tadarus bisa saja terlewatkan. Beliau juga menambahkan bahwa Allah tidak pernah mengatakan pahala tergantung pada banyaknya amalan semata, melainkan kualitasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting: Ramadan bukan sekadar perlombaan bacaan. Banyak membaca memang dianjurkan, tetapi jika tanpa tadabbur yaitu merenungi makna ayat bacaan bisa menjadi rutinitas tanpa makna spiritual yang sesungguhnya.
Fatwa dari IslamQA.info juga menjelaskan bahwa menyelesaikan Al-Qur’an di bulan Ramadan memang mustahabb (sangat dianjurkan), tapi bukan kewajiban. Yang jauh lebih utama adalah membaca dengan kesungguhan hati dan pemahaman yang benar.
Oleh karena itu, Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk mendekatkan diri secara batin kepada Al-Qur’an, bukan hanya sekadar mengejar jumlah juz yang dibaca. Tadarus yang berkualitas adalah bacaan yang dipikirkan isinya, dirasakan maknanya, dan menjadi bekal perubahan diri ke arah yang lebih baik. (*)
