KETIK, SURABAYA – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, kajian semakin padat, dan linimasa media sosial dipenuhi konten bernuansa religius.
Mulai dari unggahan tarawih, foto mushaf Al-Qur’an, potret berbagi takjil, hingga cuplikan tausiyah singkat. Namun, di tengah maraknya konten tersebut, muncul satu pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah ini murni ekspresi ibadah, atau ada unsur validasi sosial?
Media sosial memang telah menjadi ruang publik baru bagi ekspresi keberagamaan. Dalam survei We Are Social & Meltwater (Digital 2024 Indonesia) disebutkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia mencapai lebih dari 139 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa ruang digital memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dan identitas sosial, termasuk dalam praktik keagamaan.
Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Banyak konten Ramadan yang bersifat edukatif dan inspiratif. Misalnya, potongan kajian dari ustaz, pengingat waktu shalat, hingga ajakan sedekah. Ustaz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di kanal YouTube resminya menegaskan bahwa niat menjadi kunci utama dalam setiap amal. Ia menyampaikan,
“Amalan itu tergantung niatnya. Kalau niatnya karena Allah, maka kecil pun jadi besar. Tapi kalau niatnya ingin dilihat manusia, maka nilainya bisa berbeda.” (YouTube Adi Hidayat Official).
Pernyataan tersebut merujuk pada hadis yang sangat populer dalam Islam tentang pentingnya niat. Hadis riwayat Muhammad al-Bukhari dalam kitab Sahih al-Bukhari menyebutkan:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
Hadis ini menjadi fondasi bahwa motivasi di balik suatu tindakan menentukan nilai spiritualnya.
Di sisi lain, fenomena “pamer ibadah” juga menjadi perbincangan para dai. Ustaz Hanan Attaki dalam salah satu kajiannya di kanal YouTube Hanan Attaki mengatakan,
“Hati-hati dengan riya’. Kadang kita merasa sedang berdakwah, padahal hati kita senang ketika dilihat dan dipuji.” (YouTube Hanan Attaki).
Pernyataan ini mengingatkan bahwa batas antara inspirasi dan pencitraan bisa sangat tipis.
Secara psikologis, kebutuhan akan pengakuan memang merupakan bagian dari sifat manusia. Psikolog sosial menjelaskan bahwa media sosial bekerja dengan sistem umpan balik berupa “like”, komentar, dan jumlah penonton yang dapat memicu hormon dopamin. Hal ini membuat seseorang terdorong untuk terus membagikan hal-hal yang mendapatkan respons positif, termasuk konten keagamaan.
Namun, bukan berarti semua unggahan religius adalah bentuk riya’. Dalam banyak kasus, berbagi konten kebaikan justru menjadi sarana dakwah. Sebuah hadis yang juga diriwayatkan dalam Sahih Muslim menyebutkan,
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.”
Hadis ini sering dijadikan dasar bahwa menyebarkan ajakan kebaikan memiliki nilai pahala.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena ini?
Pertama, kembali pada niat pribadi. Sebelum mengunggah sesuatu, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ini untuk menginspirasi atau sekadar ingin dilihat? Kedua, membatasi eksposur yang tidak perlu. Tidak semua ibadah harus dibagikan ke publik. Ada ruang privat antara hamba dan Tuhan yang justru lebih bernilai. Ketiga, menjadikan media sosial sebagai alat, bukan tujuan. Jika unggahan membawa manfaat dan mendorong orang lain berbuat baik, maka ia bisa menjadi ladang pahala.
Ramadan sejatinya adalah bulan penyucian hati. Media sosial hanyalah medium. Yang menentukan adalah orientasi hati penggunanya. Di era digital ini, tantangan beribadah bukan lagi hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan dorongan untuk mendapatkan pengakuan.
Pada akhirnya, pertanyaan “ibadah atau validasi sosial?” bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk mengoreksi diri sendiri. Karena bisa jadi, yang paling tahu niat kita bukanlah pengikut di media sosial, melainkan Allah semata. (*)
