Tilawah adalah Ibadah Utama di Bulan Suci, Tapi Bukan "the One and Only"

27 Februari 2026 04:18 27 Feb 2026 04:18

Thumbnail Tilawah adalah Ibadah Utama di Bulan Suci, Tapi Bukan "the One and Only"

Ilustrasi - Tilawah atau baca kitab suci Al Quran. (Desain: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Bulan Ramadan selalu identik dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Masjid-masjid ramai oleh jemaah yang membaca dan mengkhatamkannya, baik secara individu maupun bersama-sama.

Kendati demikian, Wakil Dekan Bidang 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arqom Wonocolo Dr. Moch. Khoirul Anwar menilai makna ibadah di bulan suci sejatinya tidak boleh dipersempit hanya pada aspek ritual semata.

“Menurut saya kita ini jangan mempersempit makna ibadah. Kita ini sering kali mempersempit sesuatu yang sebenarnya luas,” ujarnya dalam wawancara di Surabaya, Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa ibadah tidak hanya berbentuk ritual seperti salat, puasa atau membaca Al-Quran. Dalam pandangannya, ada ibadah sosial, ibadah pendidikan, ibadah ekonomi, bahkan ibadah budaya. Semua aktivitas yang diniatkan karena Allah dan membawa kebaikan dapat bernilai ibadah.

“Ibadah itu bermakna luas, tidak hanya ritual. Ada ibadah sosial, ada ibadah pendidikan, ada ibadah ekonomi, ada ibadah budaya, kalau bahasa saya begitu,” jelasnya.

Pandangan ini sekaligus meluruskan anggapan bahwa produktivitas selama Ramadan harus selalu identik dengan kegiatan di masjid atau aktivitas keagamaan formal. Sebelum menghadiri acara buka bersama, misalnya, seseorang tidak harus selalu mengisi waktu dengan membaca Al-Quran.

Selain itu, membaca buku sebagai bentuk ibadah pendidikan juga bernilai pahala. Bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk ibadah ekonomi pun termasuk bagian dari pengabdian kepada Allah.

“Kerja itu kan termasuk ibadah. Sehingga menurut saya produktif ketika puasa itu tidak hanya ritual,” tegasnya.

Meski demikian, ia tetap menekankan bahwa tilawah Al-Quran memiliki posisi istimewa di bulan Ramadan. Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Quran sehingga memperbanyak interaksi dengan kitab suci menjadi prioritas utama. Ia bahkan menyebut Ramadan sebagai “ulang tahunnya Al-Quran”, sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa eratnya hubungan antara bulan suci dan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu.

Dari sini terlihat adanya keseimbangan dalam memahami ibadah. Di satu sisi, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan tilawah karena keutamaannya yang besar. Namun di sisi lain, mereka juga tidak boleh merasa bahwa aktivitas lain di luar ritual keagamaan tidak bernilai apa-apa.

Produktif di bulan Ramadan bukan hanya soal berapa juz yang dibaca, tetapi juga bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang membawa manfaat.

Belajar dengan tekun, menulis karya yang bermanfaat, bekerja secara profesional, membantu sesama, hingga menjaga hubungan sosial, semuanya dapat bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.

“Sehingga hal-hal produktif yang paling utama adalah tentunya membaca Al-Quran. Tapi selebihnya masih banyak hal produktif lain,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

ibadah Ramadan tilawah Produktif kegiatan ketikin ramadan Al Qur'an