“FOMO Bukber” Antara Silaturahmi atau Ajang Flexing? Ini Kata Pakar Unesa

26 Februari 2026 06:00 26 Feb 2026 06:00

Thumbnail “FOMO Bukber” Antara Silaturahmi atau Ajang Flexing? Ini Kata Pakar Unesa

Oleh: Maulidya Hanin Najahah

KETIK, SURABAYA – Fenomena buka bersama atau bukber seakan menjadi agenda wajib setiap bulan Ramadan. Undangan datang silih berganti, mulai dari teman sekolah, alumni kampus, rekan kerja, hingga komunitas tertentu. Bahkan, tak jarang jadwal bukber sudah beredar sejak awal Ramadan lengkap dengan daftar tempat dan tarifnya.

Di tengah tren ini, muncul pertanyaan: apakah bukber masih murni ajang silaturahmi, atau justru bergeser menjadi ajang flexing demi eksistensi?

Menurut Dr. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag., MEI., Wakil Dekan Bidang 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arqom Wonocolo Surabaya, bukber pada dasarnya adalah bagian dari budaya yang memiliki nilai positif.

“Kalau bukber itu ya budaya, dan saya kira ada nilai plus positifnya juga. Silaturahim yang diutamakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa makna silaturahmi sendiri sering kali kurang dipahami secara mendalam. Kata “silaturahim” berasal dari kata “silah” yang berarti menyambung dan “rahim” yang berarti persaudaraan.

Artinya, silaturahmi adalah menyambung kembali hubungan yang sempat terputus atau lama tidak terjalin.

“Namanya saja menyambung, menyambung itu kan asalnya putus. Kalau sudah nyambung tiap hari ketemu, itu bukan makna silaturahim yang sebenarnya. Justru yang lama tidak ketemu itu yang baik untuk disambung kembali,” jelasnya.

Dalam konteks ini, bukber bisa menjadi momentum yang tepat untuk mempererat kembali hubungan yang sempat renggang. Alumni yang jarang bertemu, sahabat lama, atau keluarga yang lama tak bersua, dapat menjadikan momen buka bersama sebagai sarana memperkuat ukhuwah.

Namun, realitas di lapangan tak selalu ideal. Fenomena FOMO (fear of missing out) membuat sebagian orang merasa harus hadir di setiap undangan bukber demi menjaga eksistensi sosial. Tak sedikit pula yang memamerkan lokasi mewah, menu mahal, atau suasana eksklusif di media sosial.

Menanggapi hal ini, Dr. Khoirul menegaskan bahwa bukber dan pamer adalah dua hal yang berbeda.

“Kalau ada pamer-pamer tertentu itu ya kurang pas. Bukber dan pamer itu dua hal yang berbeda. Jangan gara-gara ada yang pamer, lalu kita menjustifikasi bahwa bukber itu tidak benar. Bukbernya benar, tapi pamer itu hal yang berbeda lagi,” tegasnya.

Dalam ajaran Islam, sikap membangga-banggakan diri atau riya jelas dilarang. Orientasi utama Ramadan adalah peningkatan kualitas ibadah dan keikhlasan, bukan pencitraan. Karena itu, niat menjadi kunci.

Jika tujuan utamanya adalah silaturahmi dan mempererat persaudaraan, maka bukber bernilai positif. Sebaliknya, jika yang dikejar adalah pengakuan dan pujian, maka esensi Ramadan bisa tergerus.

Di sisi lain, dari perspektif budaya dan ekonomi, bukber juga membawa dampak yang tidak kecil.

“Kalau kita kaji dari sisi ekonomi, pasti ada multiplier effect. Dampaknya ke mana-mana itu ada. Yang jualan juga ramai," tambahnya.

Memasuki Ramadan, berbagai tempat makan hingga hotel menawarkan paket bukber dengan beragam tarif. Perputaran ekonomi meningkat, pelaku usaha kecil hingga besar merasakan manfaatnya. Dari sisi ini, bukber menjadi bagian dari dinamika sosial-ekonomi yang positif.

Pada akhirnya, bukber bukanlah masalah. Ia adalah tradisi yang bisa menjadi sarana kebaikan. Tantangannya terletak pada bagaimana setiap individu menjaga niat dan sikap. Antara silaturahmi dan flexing, pilihan ada pada diri masing-masing. (*)

Tombol Google News

Tags:

Bukber flexing puasa Ramadan Silaturahmi