Sinkhole Muncul Lagi di Sumatera Barat, Pakar UGM Jelaskan Sebab dan Mitigasinya

8 Januari 2026 08:15 8 Jan 2026 08:15

Thumbnail Sinkhole Muncul Lagi di Sumatera Barat, Pakar UGM Jelaskan Sebab dan Mitigasinya

Fenomena geologis sinkhole atau lubang amblas yang ada di areal persawahan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. (Istimewa/Tyara Basri)

KETIK, LIMA PULUH KOTA – Masyarakat Provinsi Sumatera Barat yang belum sepenuhnya pulih dari rangkaian bencana hidrometeorologi, kini kembali dikejutkan dengan bencana geologi berupa sinkhole atau lubang amblas. Fenomena ini terjadi secara tiba-tiba pada Jumat, 4 Januari 2026 lalu di kawasan persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Lubang amblas yang menyerupai piring raksasa itu memiliki diameter lebih dari 10 meter dan berpotensi terus meluas serta bertambah dalam. Sinkhole terbentuk akibat runtuh atau terkikisnya lapisan batuan bawah tanah yang sebelumnya menopang material di permukaan.

Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Wilopo menjelaskan bahwa fenomena sinkhole terjadi akibat kombinasi sejumlah faktor geologi dan iklim.

Menurut Wahyu, pelarutan batu gamping, erosi material batuan lapuk, serta curah hujan tinggi menjadi pemicu utama. Ia menambahkan, siklon Senyar yang terjadi pada akhir November 2025 turut meningkatkan intensitas hujan di wilayah Sumatera Barat.

“Kita ketahui bersama bahwa wilayah Sumatera Barat terdiri dari beberapa satuan batuan, salah satunya batu gamping. Ditambah adanya siklon Senyar yang memicu curah hujan tinggi, kondisi ini sangat memungkinkan terjadinya sinkhole,” ujar Wahyu seperti dikutip dari laman resmi UGM pada Kamis, 8 Januari 2026. 

Ia menegaskan, sinkhole tidak dapat muncul di semua jenis tanah. Fenomena ini lebih sering terjadi di wilayah dengan kondisi geologi tertentu, seperti kawasan karst (batu kapur), tanah berongga, atau daerah dengan aktivitas manusia yang mempercepat proses pelarutan dan erosi.

Di kawasan karst, air hujan dapat melarutkan batuan kapur dan membentuk rongga bawah tanah. Sementara pada tanah berongga, lubang amblas bisa disebabkan oleh gua alami maupun aktivitas pertambangan.

“Wilayah dengan material vulkanik yang telah lapuk juga mudah mengalami erosi sehingga rentan ambles. Selain itu, eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat menurunkan muka air tanah, memperbesar rongga, dan melemahkan struktur tanah hingga memicu sinkhole,” ungkap guru besar Fakultas Teknik UGM ini. 

Selain mengubah topografi lahan pertanian, Wahyu menyebutkan sinkhole dapat berdampak serius terhadap ekosistem flora dan fauna di sekitarnya. Limbah maupun material berbahaya berpotensi masuk dan mencemari air tanah melalui sungai bawah tanah.

Rongga yang terbentuk juga meningkatkan risiko amblesan lanjutan di sekitar lokasi kejadian.

Karakter sinkhole yang muncul tanpa peringatan menjadikannya ancaman serius bagi keselamatan jiwa. Selain merusak infrastruktur, fenomena ini turut mengganggu aktivitas masyarakat dan siklus ekonomi lokal.

“Kondisi ini dapat memunculkan rasa cemas dan trauma bagi masyarakat yang terdampak,” ungkap Wahyu.

Ia menegaskan bahwa penanganan sinkhole tidak cukup hanya dengan menutup lubang. Diperlukan pengelolaan air yang baik, penguatan struktur tanah, serta pelibatan masyarakat dalam upaya kewaspadaan.

Setelah evakuasi warga, langkah awal yang perlu dilakukan adalah survei geologi dan geofisika untuk mengidentifikasi kedalaman dan kondisi rongga bawah tanah. Metode yang digunakan antara lain geolistrik, seismik, dan ground penetrating radar (GPR).

Stabilisasi tanah dapat dilakukan melalui pengisian material padat atau teknik grouting, yakni penyuntikan semen cair ke dalam rongga bawah tanah. Selain itu, perbaikan sistem drainase serta rekayasa penguatan pondasi juga menjadi langkah penting.

Meski sulit dicegah sepenuhnya, Wahyu menegaskan bahwa dampak sinkhole dapat diminimalkan melalui deteksi dini. Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai antara lain retakan tanah, penurunan permukaan secara perlahan, bangunan atau pohon yang miring, perubahan aliran air, hingga munculnya lubang kecil.

Ia pun mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk berperan aktif dalam mitigasi bencana geologi, khususnya di kawasan karst yang rawan.

“Pemerintah perlu melakukan pemetaan wilayah rawan sinkhole melalui survei geologi. Masyarakat juga harus aktif melaporkan tanda-tanda awal yang mencurigakan. Edukasi bersama sangat penting agar warga memahami risiko dan langkah mitigasi,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

sinkhole lubang amblas persawahan Jorong Tepi Nagari Situjuah Batua sinkhole di Sumbar Lima Puluh Kota