KETIK, MALANG – Wilayah Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang telah memasuki masa peralihan musim. Selama masa peralihan tersebut, potensi terjadinya cuaca ekstrem diprediksi akan meningkat.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Retno Wulandari, membenarkan hal tersebut. Saat ini, masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau yang kerap disebut pancaroba sedang terjadi.
"Saat ini, wilayah Jawa Timur pada umumnya dan khususnya Malang Raya telah memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Selama periode peralihan ini, cuaca ekstrem seperti hujan dengan intensitas lebat, angin kencang, hingga hujan es berpotensi masih terjadi," ujarnya kepada Ketik.com, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan, hal ini terjadi akibat adanya fenomena atmosfer gelombang Rossby yang menyebabkan terbentuknya awan hujan. Berdasarkan data peringatan dini, kondisi cuaca ekstrem diperkirakan berlangsung tiga hari ke depan, tetapi berpotensi terjadi hingga akhir April bersamaan dengan awal musim kemarau.
"Tetapi karena cuaca ini dinamis, tentunya terus kami pantau dan kami perbarui informasinya," terangnya.
Sedangkan untuk gelombang perairan selatan Jawa, pihaknya mengungkapkan kondisinya mulai pagi sampai siang terpantau dalam kategori rendah, yaitu mencapai 1,2 meter.
"Namun saat siang hingga sore, diperkirakan gelombangnya akan tinggi. Karena biasanya pada waktu tersebut juga terjadi hujan deras," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, puting beliung, angin kencang, hingga tanah longsor.
"Dengan adanya potensi cuaca ekstrem ini, kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati, khususnya bagi yang beraktivitas di luar ruangan. Kami juga mengimbau masyarakat untuk rutin memantau perkembangan informasi kondisi cuaca melalui kanal resmi, baik lewat situs web, aplikasi Info BMKG, maupun media sosial resmi," tandasnya.
