Sepiring Sahur di Lantai Tanah, Janji Din Kallon untuk Istana Rumbia

10 Maret 2026 15:26 10 Mar 2026 15:26

Thumbnail Sepiring Sahur di Lantai Tanah, Janji Din Kallon untuk Istana Rumbia

Bupati Aceh Barat Daya, Dr Safaruddin (memakai topi hitam) saat melaksanakan sahur di rumah keluarga dhuafa dalam Kecamatan Tangan-Tangan, Selasa, 10 Maret 2026.

KETIK, ACEH BARAT DAYA – Dini hari baru saja menyapa Desa Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya. Jam menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB, Selasa (10/3/2026). Udara terasa dingin dan sunyi, hanya sesekali terdengar suara ayam atau pintu rumah warga yang dibuka pelan untuk menyiapkan sahur.

Di antara rumah-rumah sederhana yang berdiri di desa itu, sebuah rombongan kecil berhenti di depan sebuah rumah yang tampak paling rapuh di antara yang lain.

Dindingnya terbuat dari pelepah rumbia yang mulai lapuk dimakan waktu. Sementara lantainya hanyalah tanah yang dipadatkan, tanpa ubin, tanpa semen. Rumah itu berdiri seperti sedang berusaha bertahan dari panas matahari dan derasnya hujan.

Dari mobil yang berhenti itu, turun seorang lelaki yang tidak asing bagi warga Aceh Barat Daya: Safaruddin.

Bupati yang akrab disapa Din Kallon itu melangkah perlahan menuju pintu rumah. Begitu kakinya menapak lantai tanah, langkahnya seakan tertahan. Pandangannya berkeliling, menyapu setiap sudut rumah kecil tersebut.

Tak ada kursi empuk. Tak ada lemari besar. Hanya ruang sederhana yang menjadi tempat sebuah keluarga menjalani hari-hari mereka.

Di rumah itu tinggal Amran (40) bersama keluarganya.

Amran terlihat gugup. Ia berdiri dengan wajah sedikit canggung, seperti tidak percaya rumahnya yang sederhana didatangi oleh orang nomor satu di kabupaten yang dikenal sebagai Bumoe Breuh Sigupai itu.

“Beginilah kondisi rumah kami pak… kami jadi tidak enak menjamu bapak dan rombongan dalam keadaan seperti ini,” ucap Amran pelan sambil menundukkan kepala.

Ucapan itu membuat suasana seketika hening.

Di tengah rumah kecil itu, sepiring hidangan sahur sederhana telah disiapkan. Tidak ada lauk mewah. Hanya makanan seadanya yang dimasak dengan ketulusan.

Namun yang membuat Safaruddin terdiam bukanlah makanan itu.

Matanya terpaku pada lantai tanah tempat keluarga itu setiap hari makan, duduk, dan beristirahat. Dinding rumbia yang tipis juga tampak berusaha menjadi pelindung dari panas dan hujan.

Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca.

“Pagi ini saya merasa sedih… sangat terpukul,” ucap Safaruddin dengan suara bergetar.

Ia berhenti sejenak, seolah menahan sesuatu yang menyesak di dadanya.

“Ternyata masih ada saudara kita yang tinggal di rumah beralas tanah dan berdinding pelepah rumbia.”

Sebagai seorang pemimpin daerah, momen sahur itu seperti menampar kesadarannya. Di hadapan keluarga Amran, ia melihat langsung kenyataan yang mungkin selama ini hanya tertulis dalam laporan di atas meja.

Kenyataan yang kini berdiri di depan matanya.

Dengan mata yang masih basah, Safaruddin menengadahkan wajahnya, seolah berbicara kepada Tuhan.

“Ya Allah… ku janjikan pada Rabb-ku,” ucapnya lirih.

“Jika umur ini masih Engkau panjangkan dan rezeki dimudahkan, aku tidak ingin lagi melihat mereka hidup dalam kondisi yang tidak layak seperti ini.”

Janji itu tidak berhenti pada kata-kata.

Di hadapan keluarga Amran, Safaruddin langsung memastikan rumah tersebut akan segera dibangun menjadi rumah layak huni oleh pemerintah daerah. Ia bahkan menargetkan pembangunan dapat selesai sebelum Hari Raya Idulfitri, agar keluarga itu bisa merayakan lebaran di rumah yang lebih layak.

“Semoga dengan waktu yang tersisa, rumah ini bisa selesai sebelum lebaran dan bisa segera ditempati,” ujarnya.

Dalam kunjungan sahur itu, Safaruddin sebenarnya membawa bekal makanan dari pendopo. Namun ia justru menyerahkan bekal tersebut kepada keluarga Amran.

Sementara dirinya memilih menyantap hidangan sahur sederhana yang disiapkan tuan rumah.

Baginya, makan bersama di lantai tanah rumah itu bukan sekadar sahur biasa. Itu adalah cara untuk merasakan langsung kehidupan rakyatnya.

Di sela kebersamaan itu, Safaruddin juga berpesan agar keluarga tersebut terus mendidik anak-anak mereka menjadi anak yang saleh dan salehah, serta tidak meninggalkan shalat lima waktu.

“Ini rezeki buat Kakak dan Abang di bulan puasa. Setelah saya mendapat informasi, saya langsung datang melihat kondisi ini. Dan setelah saya lihat, memang sangat layak untuk segera dibangun,” katanya.

Amran tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

Ia tak pernah membayangkan sahur di rumah berdinding rumbia itu akan membawa harapan baru bagi keluarganya.

Air mata jatuh di pipinya.

“Terima kasih kami ucapkan kepada bapak yang sudah datang ke rumah kami,” ucapnya dengan suara terbata.

“Kami sangat bahagia karena bapak mau membantu merehab rumah kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan bapak dan menyertai bapak dalam memimpin Abdya.”

Di rumah kecil itu, sahur sederhana berubah menjadi kisah yang tak akan mudah dilupakan.

Tentang sepiring makanan di lantai tanah.

Tentang air mata seorang pemimpin yang melihat langsung kenyataan rakyatnya.

Dan tentang sebuah janji yang lahir di dini hari Ramadan—janji untuk mengubah rumah berdinding rumbia itu menjadi tempat yang lebih layak untuk sebuah keluarga menyebutnya sebagai rumah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Feature dr safaruddin Aceh Barat Daya abdya Aceh Bupati abdya Tangan-Tangan Sosial dhuafa