KETIK, MALANG – Sektor pertanian Indonesia kini diramaikan oleh kehadiran inovasi benih jagung lokal unggulan bernama "Bhayangkara". Benih ini merupakan buah karya PT Widji Nusantara Makmur (Winmar), sebuah perusahaan agribisnis progresif yang berbasis di Malang, Jawa Timur. Di balik kesuksesannya, terdapat tangan dingin tim profesional yang digawangi oleh Eko Widiastopo, Tonny Febrianto, dan Hamam.
Bhayangkara bukanlah benih biasa. Secara resmi, benih jagung hibrida ini merupakan varietas TKS 234 yang telah mengantongi izin rilis dari Kementerian Pertanian RI. Produktivitas tinggi, bahkan mampu mencapai 10,44 ton per hektare.
Beberapa keunggulan fisiknya meliputi postur kokoh, susunan biji silindris dengan warna oranye kekuningan yang cerah serta tekstur semi-mutiara yang diminati pasar.
Selain itu, sangat tangguh di berbagai kondisi agroekosistem, mulai dari lahan irigasi hingga lahan tadah hujan.
Memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit bulai (P. maydis) dan hawar daun, serta stabil menghadapi perubahan cuaca ekstrem.
Benih jagung Bhayangkara. (Foto: Aziz Mahrizal/ketik.com)
Dari sisi nutrisi, benih ini mengandung karbohidrat sebesar 85,43%, protein 9,10%, dan lemak 3,95%, menjadikannya pilihan ideal untuk pakan maupun kebutuhan industri.
Sebelum melahirkan brand Bhayangkara, Winmar memiliki rekam jejak panjang sebagai penyedia jasa produksi (maklun) bagi perusahaan global. Salah satu pencapaian prestisiusnya adalah kemitraan dengan Bayer Jerman (pasca akuisisi Monsanto), di mana Winmar memproduksi hingga 75% kebutuhan produk jagung mereka. Selain itu, Winmar juga dipercaya oleh Petrokimia untuk memproduksi benih sesuai spesifikasi khusus.
Setelah empat tahun memperkuat fundamental di dunia maklun dan sempat memperkenalkan brand "Dewo", Winmar kini fokus sepenuhnya pada pengembangan brand Bhayangkara sebagai ujung tombak perusahaan.
Untuk mendukung distribusi nasional, Winmar mengoperasikan pabrik benih seluas 6 hektare di Kediri. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan. Proses produksinya menggunakan teknologi mesin modern yang mengolah hasil persilangan tetua jantan dan betina dari lahan khusus. Tak hanya memproduksi brand sendiri, Winmar juga tetap membuka jasa pengeringan benih bagi perusahaan asing yang belum memiliki fasilitas di Indonesia.
Dalam upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional, Bhayangkara secara agresif memperluas jejaring strategis lintas sektoral. Di lini stabilitas pangan, PT Winmar bersinergi dengan HKTI dan Polri, di mana jajaran Kapolres di berbagai wilayah bertindak sebagai katalisator dalam mendorong petani mengadopsi benih Bhayangkara guna menggenjot produktivitas daerah.
Selain itu, kolaborasi juga menyasar program Patriot Pangan Ansor. Tak berhenti di pasar domestik, Winmar resmi memulai ekspansi global dengan menggandeng Limagrain (Prancis). Kemitraan dengan salah satu raksasa benih tertua di dunia ini memposisikan Indonesia sebagai basis produksi jagung berkualitas internasional sekaligus pintu gerbang ekspor ke pasar global. (*)
