KETIK, SURABAYA – Di tengah ramainya pilihan kuliner bakso di Surabaya, khususnya daerah Wonocolo, Bakso Pak Muh atau yang biasa dikenal Bakso Mitra Ho’oh Tenan menjadi pilihan. Tak hanya bertahan, tapi ciri khas rasa dan filosofi usaha yang unik menjadikannya punya tempat di hati para pelanggannya.
Usaha yang dirintis sejak tahun 1987 ini bukan sekadar menjual makanan, tetapi juga membawa nilai kesungguhan dalam setiap proses. Lokasinya yang mudah dijangkau membuat bakso ini menjadi salah satu favorit, khususnya bagi santri Al-Jihad.
Pemilik usaha, Muhadi yang akrab disapa Muh menjelaskan bahwa tambahan nama “Ho’oh Tenan” memiliki makna mendalam. Dalam bahasa Jawa, istilah tersebut berarti melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
“Sembarang kudu tenanan. Dodole tenanan, ibadah sing tenanan,”(semuanya harus sungguh-sungguh, jualan sungguh-sungguh, ibadah juga harus sungguh-sungguh) ujar Muh saat diwawancarai ketik.com.
Nama ’’Ho’oh Tenan’’ baru digunakan sekitar dua tahun terakhir sebagai penegasan prinsip hidup dan usaha yang selama ini ia pegang. Sebelumnya, usaha ini dikenal dengan nama Bakso Mitra.
Muh merantau dari Magetan ke Surabaya dan mulai berjualan bakso keliling sejak 1987. Ia menyebut beberapa wilayah seperti Wonocolo sebagai area awal berjualannya. Sejak tahun 2004, ia menetap berjualan di lingkungan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-jihad Surabaya yang diasuh oleh K.H. Imam Chambali.
Semangkuk bakso Ho'oh Tenan disajikan dengan kuah dicampur sambal dan irisan kol (Foto: Siska Nabilah Qothrotun Nada/Ketik.com)
Menurutnya, setiap penjual bakso memiliki ciri khas dan cita rasa masing-masing. Ia tidak mengklaim keunikan berlebihan, tetapi menekankan konsistensi rasa. Salah satu menu pembeda yang jarang ditemui di warung bakso lain adalah Es Blewah. Blewah adalah buah semacam Timun/Melon tapi rasanya lebih manis dan harum.
Isian bakso Ho’oh Tenan terdiri dari berbagai pilihan dengan harga yang terjangkau, berkisar antara Rp1.000 hingga Rp3.000 per item. Lontong dibandrol Rp3.000, sementara bakso besar dijual seharga Rp2.000.
Adapun bakso urat, bakso telur, bakso halus, tahu, dan siomay masing-masing dipatok sekitar Rp1.000 saja. Pelengkap seperti kol, bihun, saus, kecap, dan sambal disediakan secara gratis bagi pelanggan.
Dengan harga yang ramah di kantong tersebut, Bakso Pak Muh mampu menjual sedikitnya 50 porsi per hari dan dapat mencapai sekitar 70 porsi pada hari-hari ramai.
Cita rasa bakso Ho’oh Tenan juga mendapat tanggapan positif dari pelanggan.Siti Latifatul Zuhro, mahasiswa semester dua progam studi Bimbingan Konseling Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan salah satu santri Pondok Pesantren Al-Jihad, mengaku sudah menjadi pelanggan selama enam bulan.
“Rasa dagingnya kerasa, kuahnya juga segar enak,” katanya. Ia bahkan menyebut satu kata untuk menggambarkan bakso Ho’oh Tenan: “Endul!!!” tambah lathif sapaan akrabnya.
Pelanggan lain, Mujibatur Rahma mahasiswa UINSA juga, meski jarang membeli, tetap memberikan kesan singkat namun tegas. “Joss..," ujarnya singkat.
Muhadi penjual bakso melayani beberapa pelanggan di area Ponpes Al-Jihad Surabaya pada Selasa malam, 10 Februari 2026. (Foto: Siska Nabilah Qothrotun Nada/Ketik.com)
Bagi masyarakat yang ingin menikmati Bakso “Ho’oh Tenan” Muhadi, lokasi warung berada di depan Masjid Al-Jihad dapat diakses dari arah Hotel BeSS Mansion melalui Jalan Raya Jemursari menuju pintu masuk Perumahan Jemur Sari Utara sejauh sekitar 350 meter.
Setelah memasuki kawasan perumahan, pengunjung mengambil belokan ke kiri mengikuti Jalan Jemursari Utara dan mengikuti tikungan jalan ke kanan menuju area dalam perumahan. Perjalanan dilanjutkan beberapa ratus meter hingga mesasuki jalan Jemusari III.
Masjid Al-Jihad berada di dalam area Pondok Al-Jihad di sisi jalan. Warung bakso berada tepat di depan kawasan tersebut, dengan total jarak tempuh diperkirakan sekitar 1,2 kilometer dari titik awal perjalanan. (*)
