KETIK, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur tak berhenti dan getol melakukan berbagai upaya melalui program penguatan perdagangan, khususnya antarwilayah. Ini semua dilakukan demi pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat setempat.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa penguatan perdagangan antarwilayah merupakan bagian dari strategi besar dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah.
Hasilnya? Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat tumbuh positif sebesar 5,33 persen (c-to-c), sedangkan (y on y) tumbuh 5,85 persen lebih tinggi dari nasional.
Dengan total nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp3.403,17 triliun, Jatim mampu berkontribusi sebesar 14,40 persen terhadap PDB Nasional dan 25,29 persen terhadap PDRB Pulau Jawa.
Dalam periode tersebut, sektor Industri Pengolahan berkontribusi sebesar 31,32 persen, sektor Perdagangan 18,55 persen, dan sektor Pertanian 10,74 persen, sementara 14 sektor lainnya secara kolektif menyumbang 39,39 persen terhadap PDRB Jawa Timur.
Dari sisi perdagangan, Jawa Timur juga mencatat kinerja luar biasa dengan surplus neraca perdagangan sebesar Rp167,53 triliun pada tahun 2025. Surplus ini menunjukkan kuatnya kinerja ekspor daerah serta daya saing produk Jawa Timur di pasar nasional maupun internasional.
Sebagai gambaran, pada periode 2019-2026, Jatim telah menggelar 49 kali Misi Dagang dalam negeri dengan total komitmen transaksi Rp30,50 triliun dari 2.153 transaksi, serta melibatkan 2.410 pelaku usaha.
Selain itu, sejak 2022-2025, telah digelar enam kali Misi Dagang di Riyadh - Saudi Arabia, Kuala Lumpur - Malaysia, Dili – Timor Leste, Hong Kong, Osaka – Jepang dan Singapura, yang menghasilkan potensi transaksi senilai Rp5,896 triliun dan memfasilitasi 68 pelaku usaha. (*)
