KETIK, SURABAYA – Kisah tentang keteguhan dan kelapangan hati Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam kembali diceritakan dalam sebuah ceramah Ramadan. Kerasnya bacaan Al-Qur’an Rasulullah pada suatu hari pernah membuat kaum kafir merasa terganggu hingga merencanakan pembunuhan terhadap beliau.
Ceramah ini di sampaikan K.H. Much. Imam Chambali, MM, pada Sabtu 28 Februari 2026 di Masjid Al-Jihad Surabaya.
“Rasulullah itu ditakdirkan ummi, tidak bisa baca tidak bisa tulis. Tapi ditakdirkan begitu supaya orang-orang kafir tidak mengatakan Al-Qur'an itu ciptaan Muhammad. Jadi tidak bisa baca, tidak bisa tulis bukan karena ‘bodoh’, mboten (tidak). Ada tujuannya Allah takdirkan begitu,” ujar Abah Imam sapaan akrabnya.
Ia mengisahkan, pada saat itu Rasulullah membaca Al-Qur’an dengan suara keras, yakni Surat As-Sajdah, kemudian kaum kafir sepakat untuk membunuh beliau karena merasa terganggu. Mereka telah membawa batu, pisau dan alat-alat lainnya, namun seketika tangan mereka menjadi kaku dan mata mereka buta.
Melihat kejadian tersebut, mereka meminta maaf kepada Nabi Muhammad. “Rasulullah itu memang hatinya lembut. Beliau berdo’a Ya Allah, semoga saudara-saudara saya ini disembuhkan dari tangan yang kaku tadi dan mata yang buta’’, tuturnya. Akhirnya seketika mereka langsung sembuh.
Meski demikian, tidak satu pun dari mereka yang beriman. Dari kisah ini, Abah Imam menegaskan bahwa orang yang berjuang di jalan dakwah pasti akan menghadapi ujian.
“Orang berjuang demi kebaikan itu pasti akan menjumpai ujian. Tapi kita tidak boleh membalas dengan kejahatan, harus menjadi pemaaf,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Jihad Surabaya ini juga menekankan pentingnya memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan suci Ramadan. Menurutnya, membaca Al-Qur’an tetap membawa hikmah meski tidak faham maknanya.
Ia mencontohkan kebiasaan Rasulullah yang setiap Ramadan melakukan nderesan (tadarus) dan disimak langsung oleh Malaikat Jibril. Di zaman sekarang, kemudahan teknologi seperti mushaf digital di ponsel semakin memudahkan umat Islam untuk membaca Al-Qur’an kapan saja.
“Cukup ngaji saja. Kalo tiba-tiba ada pertolongan berarti barokahnya baca Qur’an,” ujar Kiai asal Palembang tersebut.
Di akhir ceramahnya, Dewan Penasihat Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Bryan Makkah tersebut mengajak jemaah untuk selalu istiqomah dalam hal kebaikan meskipun belum sempurna.
“Mugo-mugo kulo lan panjenengan termasuk wong istiqomah (Semoga saya dan kita semua termasuk orang yang istiqomah). Istiqomah dari semua kebaikan walaupun tidak sempurna, sing penting ada nilai-nilai niat baik.Masyaallah’’, pungkasnya. (*)
