Ustaz Bassam: Jangan Jadi ''Pengangguran Spiritual'' di Tengah Ramadan

24 Februari 2026 22:55 24 Feb 2026 22:55

Thumbnail Ustaz Bassam: Jangan Jadi ''Pengangguran Spiritual'' di Tengah Ramadan

Ilutrasi seseorang zikir kepada Allah (Foto: Pinterest)

KETIK, SURABAYA – Penceramah Dr. H. Bassam Abul A’la, S.Pd.I., M.Pd atau akrab disapa Ustaz Bassam mengajak jemaah untuk tidak lengah dalam memanfaatkan momentum ibadah di bulan puasa.

Ia mengingatkan pentingnya evaluasi diri agar kita tidak mudah terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai “pengangguran spiritual”.

Ajakan ini disampaikannya saat mengisi kultum sebelum tarawih pada Senin, 23 Februari 2026 di Masjid Al-Jihad Surabaya.

“Kalau tidak kita hitung, tiba-tiba nanti sudah di malam ke-29. Maka dari itu mari kita selalu hitung dan evaluasi diri kita, malam Ramadan ini apa yang sudah kita lakukan,” ujar dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi Wassalam (SAW) tentang larangan menjadi pemuda yang menganggur. Rasulullah bersabda, ’’Innallaha yubghidusy syaabbal faarigh’’, artinya (sesungguhnya Allah membenci pemuda yang menganggur).

Namun, yang dimaksud “menganggur” bukan semata-mata tidak bekerja secara fisik, melainkan kosong dari aktivitas spiritual. Ia menjelaskan bahwa pemuda yang nganggur adalah mereka yang jauh dari Al-Qur’an dan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT).

Ia juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, “Wa may ya’syu ‘an dzikrir rahman nuqayyid lahu syaithanan fahuwa lahu qarin”, yang berarti barang siapa berpaling dari mengingat Allah, maka Allah akan menjadikan setan sebagai teman dekatnya.

“Ketika kita nganggur dari belajar Al-Qur’an dan zikir, maka yang ada di dalam hati dan pikiran kita adalah setan. Setan itu akan menjadi sahabat kita,” ujar ustadz asal Tulungagung tersebut.

Oleh karena itu, Ramadan harus dijadikan momentum untuk menyibukkan diri dengan amal ukhrawi. Membaca Al-Qur’an setiap hari, memperbanyak zikir kepada Allah SWT.

Ustaz Bassam juga menyinggung kisah seorang tabi'in bernama Ibnu Munkadir yang dikenal gemar berzikir dengan suara lantang hingga terdengar ke tetangganya. Saat ditanya alasan mengapa mengeraskan zikir, Ibnu Munkadir menjawab ia melihat tetangganya berteriak keras ketika tertimpa musibah, sehingga mengungkapkan syukur dan ingat kepada Allah pun layak dilakukan dengan suara keras.

Meski demikian, ia mengingatkan agar tetap menjaga adab dan situasi. Zikir yang dikeraskan hendaknya dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat, ’’jangan di tengah jalan kemudian suaranya keras nanti dikira orang nggak jelas’’ tambahnya.

“Mari kita hitung, sudah dapat berapa juz, sudah membaca berapa ayat, sudah khatam berapa kali. Itu yang harus menjadi evaluasi kita agar tidak tergolong pemuda yang nganggur,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pengangguran Spiritual Ramadan Evaluasi Diri Zikir Al Qur'an ustaz bassam tarawih kultum