KETIK, MALANG – Mall Sarinah, yang berdiri gagah di ujung kawasan Kayutangan Heritage, menyimpan sejarah panjang perkembangan Kota Malang. Di lokasi yang kini menjadi salah satu pusat perbelanjaan tersebut, pernah berdiri rumah pribadi Bupati pertama Malang, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Notodiningrat.
Sejarawan Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono, menyebutkan bahwa Notodiningrat tinggal di kawasan tersebut sekitar tahun 1820, seiring dengan pembangunan pendopo Kabupaten Malang.
“Waktu pendopo sudah jadi pun, Bupati Malang masih tinggal di rumahnya. Rumah bupati terletak di utara alun-alun, yang saat ini menjadi Sarinah,” ujar Dwi.
“Rumahnya besar, membentang dari kawasan Sarinah hingga yang kini menjadi Kantor Bank Indonesia Malang,” tambahnya.
Meski pendopo telah selesai dibangun, Notodiningrat tidak serta-merta pindah. Ia tetap menempati rumah pribadinya dan hanya menggunakan pendopo sebagai kantor pemerintahan.
Menurut Dwi, pemerintah kolonial Belanda kemudian memaksa Notodiningrat untuk pindah ke pendopo. Langkah ini dilakukan karena Belanda berencana membangun tempat hiburan di lokasi rumah sang bupati, yang dinilai strategis.
“Mereka berencana membangun sebuah societeit bernama Societeit Concordia,” tuturnya.
Pada 1830, Societeit Concordia pun berdiri. Gedung ini menjadi tempat kalangan elit Belanda menghabiskan waktu luang, termasuk untuk minum dan bermain biliar di ruang yang dikenal sebagai kamar bola.
Pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, gedung tersebut kembali berganti fungsi. Pada 1947, Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) digelar di tempat ini. Sejumlah tokoh nasional, termasuk Soekarno dan Mohammad Hatta, hadir dalam sidang tersebut.
Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, gedung ini juga sempat dibakar oleh pejuang Indonesia untuk menghambat laju agresi militer Belanda.
Pada akhirnya, Sarinah dibangun kembali dan sejak era 1970-an difungsikan sebagai pusat perbelanjaan hingga sekarang. Sarinah kemudian dikenal sebagai mal paing tua di Kota Malang. (*)
