KETIK, PROBOLINGGO – Ibadah malam atau Qiyamul Lail bukan sekadar rutinitas penghilang kantuk, melainkan sebuah ruang istimewa untuk meraih kedekatan dengan Sang Pencipta. Hal ini disampaikan dengan lugas oleh KH. Moh. Zuhri Zaini dalam pengajian kitab Nashoihud Diniyah pada Jumat, 27 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri menekankan bahwa melimpahnya dalil mengenai shalat malam menunjukkan betapa agungnya fadhilah yang terkandung di dalamnya. Namun, beliau meluruskan persepsi bahwa Qiyamul Lail bukan berarti terjaga sepanjang malam tanpa tidur.
"Para ulama membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga untuk beribadah, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga sisanya juga untuk istirahat. Semua tentang manajemen waktu dan pembiasaan diri," jelas beliau.
Kiai Zuhri juga berbagi tips praktis mengenai manajemen kantuk. Menurut beliau, rasa kantuk sering kali dipicu oleh pola makan. "Banyak makan akan membuat seseorang mudah mengantuk. Sebaliknya, orang yang berpuasa biasanya lebih terjaga," tambahnya. Bangun malam merupakan bentuk mengikuti sunnah Nabi SAW yang sangat dianjurkan bagi umatnya, meski bagi Rasulullah SAW ibadah Tahajjud hukumnya adalah wajib.
Di sela-sela pembahasan, Kiai Zuhri memberikan catatan penting mengenai hal-hal yang khusus berlaku bagi Nabi (Khushushiyat) dan tidak boleh diikuti sembarangan oleh umatnya. Beliau menyentil fenomena poligami saat ini yang sering disalahpahami.
"Nabi berpoligami dengan janda-janda tua, bahkan ada yang tidak lagi membutuhkan nafkah batin. Tujuannya adalah dakwah dan perlindungan. Berbeda dengan sekarang, orang berpoligami justru mencari yang muda-muda. Inilah yang sering disalahpahami oleh mereka yang tidak mendalami ajaran Islam secara utuh," tegas pengasuh pondok pesantren tersebut.
Mengapa kita diperintahkan Tahajjud? Selain menjanjikan ketenangan hati, Tahajjud adalah wasilah bagi Nabi SAW untuk mendapatkan Maqam Mahmud (kedudukan terpuji), yakni Syafaatul 'Udhma. Kiai Zuhri menjelaskan bahwa kedekatan seseorang kepada Allah sangat bergantung pada bersihnya hati dari dosa.
"Dosa adalah penghalang yang menjauhkan kita dari Allah. Karena itulah, kita dianjurkan meminta bantuan (doa) kepada orang-orang shaleh yang lebih dekat dengan-Nya," tutur Kiai Zuhri.
Sebagai ilustrasi nyata, beliau menceritakan kisah seorang dokter ateis di Amerika Serikat. Menghadapi kondisi bayinya yang mengalami kelainan jantung dan membiru tanpa solusi medis, sang dokter yang awalnya tidak percaya Tuhan akhirnya bersimpuh di tempat sepi. Keajaiban doa menyembuhkan anaknya dan membawanya memeluk Islam hingga menjadi seorang mubaligh.
Kiai Zuhri menggarisbawahi bahwa meski setiap hamba bisa berdoa langsung kepada Allah, tidak semua orang memiliki tingkat kekhusyukan dan kesucian hati yang sama. Di sinilah letak pentingnya Tawassul.
"Nabi sendiri pernah menyuruh sahabat untuk meminta doa kepada Uwais Al-Qarni. Ini membuktikan bahwa bertawassul kepada orang-orang shaleh itu diperbolehkan, asalkan kita tetap meyakini bahwa hanya Allah-lah Sang Penentu segalanya, bukan manusia tersebut," pungkasnya. (*)
