KETIK, MALANG – Sejarawan M. Dwi Cahyono buka suara ihwal sosok Ki Ageng Gribig yang disebut sebagai salah satu penyebar Islam tahap awal di Malang. Ia menyebut ada dua sosok berbeda yang memiliki gelar Ki Ageng Gribig.
Dwi Cahyono menyebut ada Ki Ageng Gribig Tua dan Ki Ageng Gribig Muda. Keduanya berasal dari zaman yang berbeda. Ki Ageng Gribig Tua berasal dari era Kesultanan Demak. Sementara itu, Ki Ageng Gribig Muda berasal dari era Kesultanan Mataram.
“Nah, untuk Ki Ageng Gribig Muda ini tak bisa dilepaskan dari sejarah penaklukan Mataram ke daerah Brang Wetan, termasuk Malang,” tutur Dwi.
“Waktu itu, ekspansi ke Malang dipimpin seorang senapati, pimpinan militer, yang disebut bernama Surontani, atau lengkapnya Tumenggung Surontani,” sambungnya.
Menurut Dwi, Surontani bukan merupakan nama asli, melainkan jabatan militer. Sementara itu, nama aslinya tidak diketahui.
Kemudian, Surontani berhasil menaklukkan pemimpin Malang, Rangga Tohjiwo. Malang pun akhirnya menjadi wilayah Mataram.
“Kemudian, Mataram menempatkan sosok adipati yang pertama. Nah, ada kemungkinan Surontani-lah yang dipilih sebagai adipati itu. Biasanya, memang ganjaran bagi seorang pimpinan militer adalah ditempatkan sebagai penguasa di daerah,” papar Dwi.
“Hal ini wajar karena ia dianggap sebagai sosok yang paling menguasai wilayah tersebut. Ia juga yang paling tahu medan,” sambungnya.
Pusara Ki Ageng Gribig yang berada di RW 04, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)
Menurut sejarawan Universitas Negeri Malang tersebut, setelah meninggal, Tumenggung Surantani dimakamkan di Gribig dan kemudian disebut sebagai Ki Ageng Gribig.
“Ini dugaan saya. Jadi, nama Ki Ageng Gribig itu adalah nama anumerta,” tutur Dwi.
“Ki Ageng itu sebutan era-era Mataram, setelah yang bersangkutan meninggal. Setelah lengser dari jabatan adipati, beliau menjadi pemuka agama,” tandasnya. (*)
