KETIK, MALANG – Mbah Arifin merupakan sosok yang lekat dengan kawasan Kayutangan, kini terkenal dengan nama Kayutangan Heritage, Kota Malang. Selama puluhan tahun, sampai akhir hayatnya, ia dikenal sebagai lelaki tua yang setia duduk di satu tempat yang sama menanti sang kekasih yang tak pernah datang.
Menurut penuturan warga sekitar, Mbah Arifin sering terlihat duduk di emperan bangunan tua. Ia termenung dengan pandangan kosong. Bahkan, pria yang juga karib disebut Mbah Gombloh tersebut kerap tampak tertidur di tempatnya itu.
Tempat Mbah Arifin biasa duduk menanti sang kekasih yang tak pernah datang sampai akhir hayatnya. (Foto: Dendy/Ketik.com)
Banyak versi beredar soal Mbah Arifin. Ada yang bilang, ia datang jauh-jauh dari Ngantang, di kawasan barat Kabupaten Malang untuk menemui sang kekasih.
Mbah Arifin dan kekasihnya disebut harus terpisah akibat suatu hal. Ada yang bilang karena masalah politik. Mereka berdua berjanji akan bertemu di Kayutangan ketika kondisi sudah aman.
Ketika kondisi sudah aman, Mbah Arifin mendatangi tempat mereka bersepakat untuk bersua. Namun, seiring perjalanan waktu, sang kekasih tak juga datang.
Ada yang bilang sang kekasih telah tiada. Ada juga versi yang mengatakan kekasih Mbah Arifin telah pergi dan menikah dengan orang lain.
Kendati sang kekasih tak jua datang, Mbah Arifin tetap setia. Seperti di lirik lagu The Man Who Can't Be Moved yang disenandungkan The Script, ia bergeming.
Sosok Mbah Arifin tertangkap kamera Google Street View pada Januari 2015 silam. (Foto: Tangkapan layar Google Street View)
Hari berganti hari, Mbah Arifin tetap setia datang ke tempat yang sama demi menanti sang kekasih hadir. Namun, penantian ini tak jua terbayar.
Pada 8 April 2017, kisah Mbah Arifin berakhir dengan tragis. Ia ditemukan terkapar di tepi jalan, dekat tempat biasanya ia duduk diam seharian. Ada sejumlah memar di tubuhnya. Kemungkinan ia jadi korban tabrak lari.
Mbah Arifin sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi ia meninggal tak lama berselang.
Ketua Pokdarwis 'Kampoeng Heritage Kayutangan', Mila Kurniawati, membenarkan soal legenda Mbah Arifin. Namun, ia menyebut ada sejumlah versi cerita yang beredar.
"Saya mendengar banyak versi cerita soal Mbah Arifin. Saya dengar dan terima apa yang diceritakan orang soal beliau. Namun, kalau mau memverifikasi kebenaran cerita yang beredar kan agak susah," tuturnya.
Menurut Mila, kendati ada banyak versi soal kisah Mbah Arifin, hampir semua sepakat bahwa kisah ini adalah soal kesetiaan. Banyak, sambung perempuan kelahiran 13 Maret 1981 ini, yang meminta agar ada monumen untuk mengenang kisah kesetiaan Mbah Arifin.
"Ada yang usul, dengan romantisme ceritanya, kita membuat semacam patung atau monumen di tempat Mbah Arifin biasa duduk. Kalau saya, karena belum ada dokumen yang bisa memastikan cerita itu, ya nanti dulu," ia menandaskan.
Saat ini, kendati tidak ada monumen yang memperingati khusus Mbah Arifin, ada mural bergambar wajahnya di rolling door salah satu toko dekat tempat Mbah Arifin biasa duduk. Banyak pengunjung Kayutangan Heritage yang berfoto di depan mural tersebut sembari mengenang kisah romantis dan kesetiaan Mbah Arifin. (*)
