KETIK, BLITAR – Transformasi digital tak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha yang ingin bertahan dan tumbuh.
Menangkap realitas itu, Rumah BUMN Blitar menggelar sharing session bertajuk “Financial Digitalization for Business Growth”, Kamis, 22 Januari 2026, di Rumah BUMN Blitar, Jalan A. Yani No. 23, Kota Blitar.
Kegiatan ini diikuti sekitar 30 pelaku usaha lintas komunitas, mulai dari HIPMI, Kadin, Cah Preneur, hingga komunitas wirausaha Blitar Raya.
Suasananya cair namun serius, membahas satu hal krusial: bagaimana keuangan yang tertata rapi dan terdigitalisasi bisa menjadi mesin pertumbuhan usaha.
Pengelola Rumah BUMN Blitar, Sulistyaningsih, menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperluas peran Rumah BUMN. Tidak hanya sebagai pendamping UMKM, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi pelaku usaha muda yang ingin naik kelas.
“Kami ingin Rumah BUMN Blitar hadir lebih luas. Bukan hanya mendampingi UMKM, tetapi juga menjadi rumah belajar bagi para pelaku usaha, terutama pengusaha muda, agar siap berkembang,” ujarnya.
Menurut Sulistyaningsih, kolaborasi dengan berbagai organisasi pengusaha menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan saling menguatkan. Lebih dari itu, ia ingin menanamkan pola pikir baru kepada pelaku usaha lokal agar berani menatap pasar global.
“Mindset go global itu penting. Salah satu tugas Rumah BUMN adalah mendorong pelaku usaha agar siap menembus pasar internasional. Karena itu kami menghadirkan narasumber langsung dari luar negeri,” jelasnya.
Hal yang membuat kegiatan ini berbeda, Rumah BUMN Blitar menghadirkan Piet Mathijssen, pengusaha asal Belanda sekaligus pemilik Finance Key, yang telah lebih dari 40 tahun berkecimpung di bidang manajemen dan digitalisasi keuangan.
Dalam paparannya, Piet menekankan bahwa fondasi utama pertumbuhan bisnis adalah pengelolaan keuangan yang disiplin dan transparan. Ia menyebut, arus kas yang sehat dan pembukuan yang rapi menjadi penentu umur panjang sebuah usaha.
“Pembukuan tidak harus rumit. Yang penting sederhana, konsisten, dan mudah dibaca. Dengan begitu, pemilik usaha bisa memahami kondisi bisnisnya secara utuh,” tutur Piet.
Ia bahkan mengibaratkan pengelolaan keuangan bisnis seperti mengatur keuangan rumah tangga. “Prinsipnya sama. Semua harus dicatat. Dari situ kita tahu apakah bisnis kita sehat atau sedang sakit,” imbuhnya.
Melalui forum ini, Piet berharap pelaku usaha di Blitar Raya semakin profesional dalam mengelola bisnis, adaptif terhadap digitalisasi keuangan, dan memiliki kesiapan mental maupun sistem untuk bersaing di level global.
Sementara itu, peserta mengaku mendapatkan sudut pandang baru terkait pentingnya manajemen keuangan yang sederhana namun terukur.
Sharing session ini pun diharapkan menjadi pemantik lahirnya pengusaha-pengusaha Blitar yang tak hanya kuat di lokal, tetapi juga percaya diri menembus pasar dunia.(*)
