Refleksi 1 Abad NU, Heli Suyanto: NU Penjaga Harmoni dan Mesin Pembangunan Kota Batu

31 Januari 2026 18:46 31 Jan 2026 18:46

Thumbnail Refleksi 1 Abad NU, Heli Suyanto: NU Penjaga Harmoni dan Mesin Pembangunan Kota Batu

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat menghadiri pelantikan Pengurus IPNU-IPPNU Kota Batu, pada Sabtu, 31 Januari 2026. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Peringatan 1 abad Nahdlatul Ulama (NU) dalam penanggalan Masehi menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut dalam menjaga harmoni keislaman dan kebangsaan.

Bagi Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, usia 100 tahun NU bukan sekadar penanda waktu, melainkan bukti ketangguhan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam melintasi perubahan zaman. Heli menilai, satu abad NU adalah momentum recharging energy bagi seluruh warga Nahdliyin untuk kembali meneguhkan jati diri sekaligus memperkuat peran keumatan ke depan.

“Satu Abad NU bukan sekadar perayaan angka atau usia. Ini adalah bukti ketangguhan nilai Aswaja yang mampu bertahan dan relevan lintas zaman. Kita patut bersyukur karena NU berhasil menjaga harmoni antara keislaman dan keindonesiaan selama 100 tahun,” ujarnya, Sabtu, 31 Januari 2026.

Menurut Alumnus Universitas Islam Malang (Unisma) ini, warisan para kiai pendiri NU tidak boleh diperlakukan sebagai artefak masa lalu, melainkan harus dijadikan kompas untuk menjawab tantangan masa depan.

“Warisan para kiai bukan untuk dijaga sebagai museum, tetapi sebagai penunjuk arah agar kita terus bergerak maju,” tegas Mas Heli, sapaan akrabnya.

Mas Heli menekankan peran strategis NU dalam pembangunan Kota Batu. Ia menyebut, stabilitas sosial dan suasana kondusif yang dirasakan masyarakat saat ini tidak bisa dilepaskan dari kontribusi NU.

“Kota Batu tidak akan sedingin dan sekondusif sekarang tanpa peran besar keluarga besar Nahdlatul Ulama. NU adalah pagar sekaligus mesin pembangunan manusia di kota ini,” katanya.

Mas Heli memetakan setidaknya tiga peran krusial NU dalam pembangunan daerah. Pertama, sebagai penjaga harmoni sosial. Dengan status Kota Batu sebagai destinasi wisata internasional, nilai-nilai Aswaja yang moderat dan toleran dinilai menjadi penyangga penting agar gesekan budaya tidak berkembang.

“NU melalui para kiai dan tokoh masyarakat berhasil menjaga Batu tetap religius sekaligus terbuka dan inklusif,” ujarnya.

Kedua, NU berperan sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Mayoritas warga Nahdliyin di Kota Batu merupakan petani, pedagang, dan pelaku UMKM. Peran lembaga-lembaga NU seperti LP Ma’arif dan LPNU dinilai strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

“Pembangunan Kota Batu harus bertumpu pada kesejahteraan warga Nahdliyin yang mayoritas tinggal di desa-desa,” jelas Mas Heli.

Ketiga, NU menjadi benteng karakter melalui pesantren. Di tengah pesatnya pembangunan fisik dan sektor pariwisata, Heli mengingatkan pentingnya keseimbangan dengan pembangunan akhlak dan moral generasi muda.

“Hotel dan objek wisata akan hampa maknanya jika tidak dibarengi pembangunan karakter. Pesantren-pesantren NU memastikan anak muda tidak tercerabut dari akarnya di tengah modernisasi,” katanya.

Di momentum Harlah ke-100 NU, Mas Heli juga menyampaikan pesan kepada seluruh warga nahdliyin agar tetap teguh pada tradisi, namun tidak alergi terhadap inovasi.

“Selamat Harlah NU. Mari kita perkokoh pijakan pada tradisi, sembari melompat tinggi menyambut inovasi. Tetaplah menjadi oase yang menyejukkan di tengah panasnya dinamika zaman. Dari NU untuk peradaban dunia,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

1 Abad NU NAHDLATUL ULAMA Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto Kota Batu Harlah NU NU 100 tahun NU