KETIK, YOGYAKARTA – Kopi selama ini dikenal sebagai minuman andalan untuk mengusir kantuk. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa di balik efek stimulasinya, kopi mengandung senyawa yang berpotensi memengaruhi penyerapan gula dalam darah. Studi yang dipimpin Minghua Qiu dari Institut Botani Kunming, Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan dipublikasikan dalam jurnal Beverage Plant Research pada Januari lalu, membuka peluang kajian kopi dalam konteks pengelolaan diabetes.
Meski demikian, temuan tersebut tidak dapat dimaknai secara sederhana bahwa kopi bisa menjadi terapi diabetes.
Dosen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) UGM, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., menjelaskan hasil penelitiannya tentang pemetaan dan karakterisasi senyawa kimia kopi menunjukkan adanya sejumlah komponen penting, seperti asam klorogenat, kafein, dan trigonelin. Ia juga menemukan keberadaan berbagai jenis gula dan gula alkohol dalam biji kopi. Komposisi senyawa tersebut dipengaruhi tidak hanya oleh varietas, tetapi juga proses pengolahan.
“Banyak komponen kimia yang berkontribusi terhadap pembentukan rasa kopi,” jelasnya, Senin (9/2).
Terkait temuan aktivitas antidiabetik pada senyawa kopi, Widi menegaskan bahwa hal itu tidak serta-merta menjadikan kopi sebagai obat.
“Masyarakat tidak salah kaprah memaknai kopi sebagai terapi diabetes,” katanya.
Ia mencontohkan asam klorogenat yang memang diketahui memiliki potensi aktivitas antidiabetik. Namun, senyawa tersebut tidak hanya terdapat pada kopi, melainkan juga pada berbagai bahan pangan lainnya.
“Kopi merupakan matriks pangan yang sangat kompleks, mengandung ribuan senyawa kimia berbeda, sehingga tidak dapat disederhanakan bahwa konsumsi kopi secara langsung bersifat antidiabetik,” tambah Widi.
Pandangan serupa disampaikan dosen TPHP Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yunika Mayangsari, S.Si., M.Biotech., Ph.D. Ia menilai secara konsep, hubungan antara senyawa kopi dan pengendalian diabetes masuk akal secara ilmiah.
“Kopi kaya akan senyawa fenolik, seperti asam klorogenat, asam kafeat, serta beberapa flavonoid. Dalam riset ini juga disebutkan adanya cafaldehid yang dapat menghambat enzim alfa-glukosidase,” jelasnya.
Yunika menerangkan bahwa enzim alfa-glukosidase berfungsi memecah karbohidrat kompleks menjadi glukosa di saluran pencernaan. Jika enzim tersebut dihambat, penyerapan glukosa dapat diperlambat sehingga lonjakan gula darah berpotensi ditekan. Namun, ia kembali menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi hasil riset tersebut.
“Kopi tidak bisa dijadikan pengganti terapi. Ia lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari pola hidup,” ujarnya.
Dalam riset pangan fungsional, Yunika menjelaskan bahwa fokus kajian terletak pada ekstrak dan senyawa aktifnya, bukan sekadar konsumsi kopi secara langsung.
“Yang kami evaluasi adalah ekstrak dan senyawanya, bukan sekadar dikonsumsi lalu menurunkan gula darah secara instan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pengendalian diabetes melibatkan mekanisme yang kompleks, mulai dari penghambatan enzim pencernaan, aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, hingga peningkatan sensitivitas insulin. Aspek keamanan konsumsi juga perlu diperhatikan, mengingat kafein dapat memicu gangguan pada individu dengan masalah lambung, jantung, atau tidur.
“Studi tentang kopi dan risiko diabetes bersifat studi populasi dan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung,” jelasnya.
Menutup diskusi, Widi kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menelan informasi secara mentah. Ia menegaskan perbedaan mendasar antara obat dan pangan. Senada dengan itu, Yunika menekankan bahwa kopi tidak dapat menggantikan terapi medis. Konsumsi kopi sebaiknya dilakukan secara bijak, tidak berlebihan, serta tetap memperhatikan pola makan dan gaya hidup secara menyeluruh.
“Sekali lagi, tidak boleh berlebihan dan kalau kita arahnya ke diabetes ya kuncinya di asupan harian,” jelasnya.
