KETIK, TEGAL – Pemerintah Kabupaten Tegal melakukan serangkaian upaya untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan pokok menjelang Idulfitri 2026.
Langkah ini dilakukan melalui High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Ruang Rapat Bupati pada Senin, 9 Maret 2026, dengan mengacu pada strategi 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal, Wenda Akhmadi, menyampaikan bahwa pemantauan harga dilakukan secara harian melalui sistem digital seperti aplikasi SiHati, SP2KP, dan Simpasar.
Selain itu, TPID telah melaksanakan gerakan pangan murah sebanyak tiga kali dan inspeksi mendadak ke pasar dua kali selama Februari hingga awal Maret 2026.
“Strategi 4K harus diterapkan secara konkret sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat,” tegas Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Amir Makhmud.
Ia menekankan bahwa stabilitas harga pangan menjadi tantangan utama saat permintaan meningkat menjelang hari besar keagamaan, dan meminta para camat untuk memantau kondisi di wilayah masing-masing serta melaporkan lonjakan harga yang tidak wajar.
Dalam arahan yang dibacakan Amir, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menetapkan empat langkah strategis, yaitu stabilisasi stok bahan pokok dan gas, mitigasi dampak cuaca ekstrem, pemeliharaan infrastruktur jalan untuk kelancaran mudik, serta pemenuhan layanan dasar seperti listrik, BBM, dan jaringan telekomunikasi.
Pemerintah daerah juga mendukung sektor hulu pertanian dengan menyediakan benih unggul, pupuk, dan alat mesin untuk menjaga ketahanan rantai pasok pangan.
Selain itu, Bupati menginstruksikan untuk mengedukasi masyarakat agar berbelanja secara bijak dan menghindari panic buying.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, memaparkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tegal pada triwulan III 2025 melambat, kinerjanya masih di atas rata-rata Jawa Tengah dan nasional, dengan kontributor utama dari sektor tersier seperti perdagangan ritel, perbankan, dan pariwisata.
Komoditas penyumbang inflasi didominasi oleh cabai, bawang merah, daging ayam ras, serta emas sebagai komponen inflasi inti.
Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain dampak bencana pada sektor pariwisata Guci, tantangan tanah bergerak dan hama di sektor pertanian Padasari dan Margasari, serta musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang berdasarkan prediksi BMKG.
“Informasi mengenai ketersediaan stok serta potensi perubahan kondisi iklim perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat agar mereka tetap tenang,” ujar Bimala, yang menekankan pentingnya aspek komunikasi dalam pengendalian inflasi.(*)
