KETIK, PACITAN – Progres pembangunan bandara perintis di Kabupaten Pacitan mandek.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Pacitan, Abdul Malik Gusmida, mengatakan hingga kini belum ada perkembangan baru setelah tahapan preview desain dan selection lokasi pada akhir 2024.
“Masih sama dengan terakhir kemarin. Artinya kita Pemkab tetap berupaya mengusulkan agar direalisasikan adanya Bandara Perintis. Tapi kewenangannya ada di pemerintah pusat, jadi kita menunggu,” ujarnya, Selasa, 24 Februari 2026.
Abdul Malik menyebut, selain belum adanya tindak lanjut dari pemerintah pusat, kendala teknis juga muncul terkait posisi Pacitan yang masuk Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP).
"Karena kan Pacitan juga jadi pangkalan TN AU Lanud Iswahyudi, jadi sering juga dipakai latihan militer. KKOP harus dipastikan memenuhi aspek keselamatan sebelum proyek dapat dilanjutkan," ungkapnya.
Baru-baru ini, lanjutnya, Pemkab Pacitan juga telah melakukan audiensi daring dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam upaya penguatan pengusulan Infrastruktur tersebut.
Lebih lanjut, usulan bandara tersebut telah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pacitan 2023-2043 dan dilengkapi dokumen feasibility study (FS) yang sudah direviu sejak 2023.
Bandara perintis, diusulkan berlokasi di Dusun Salam, Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku.
Dari hasil FS draft awal, lokasi di Pringkuku dinilai layak secara teknis. Area relatif datar dan arah angin mendukung untuk operasional penerbangan.
“Kalau hasil FS draft-nya itu, secara flat area dan angin memungkinkan untuk dikembangkan. Secara detail engineering design dan FS, lokasi di Pringkuku memungkinkan untuk pembangunan bandara,” jelasnya.
Sebagai daerah di ujung barat daya Jawa Timur yang berbatasan dengan Yogyakarta dan Jawa Tengah, Pacitan dinilai membutuhkan akses transportasi udara untuk membuka keterisolasian.
Selama ini, konektivitas masih bertumpu pada jalur darat dengan kondisi geografis perbukitan.
Bandara perintis dirancang tidak hanya untuk angkutan penumpang, tetapi juga mendukung distribusi logistik dan mobilitas barang.
Keberadaannya diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata, perikanan, pertanian, hingga UMKM.
“Kita tetap kawal dan berharap segera ada keputusan agar bisa bergerak ke tahap berikutnya,” pungkas Abdul Malik Gusmida.(*)
