KETIK, JAKARTA – Meski wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, Israel dikenal sebagai salah satu negara dengan teknologi paling maju. Negeri yang memiliki banyak musuh itu juga dikenal banyak memiliki ilmuwan berkualitas di dunia.
Tak heran, jika pengembangan teknologi di Israel dikenal yang terdepan. Baru-baru ini, pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperkuat kebijakan pengembangan kecerdasan buatan yang telah berjalan sejak pertengahan tahun lalu.
Hal ini dimulai dengan pembentukan badan khusus pengembangan kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) di bawah kantor Perdana Menteri, atau setingkat di bawah kementerian. Langkah Netanyahu itu menempatkan AI sebagai pilar utama keamanan nasional dan kepemimpinan teknologi Israel.
Kebijakan ini kini memasuki fase implementasi strategis, ditandai dengan penguatan Badan Nasional AI di bawah kantor Perdana Menteri serta perluasan kemitraan dengan Amerika Serikat.
Badan Nasional Kecerdasan Buatan (AI) Israel ini dibentuk untuk mengoordinasikan kebijakan lintas sektor, mulai dari pertahanan, riset, industri, hingga pengembangan sumber daya manusia. Pemerintah Israel menilai bahwa penguasaan AI akan menjadi faktor penentu keunggulan strategis negara di tengah persaingan global teknologi kritis.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak lagi dipandang sebagai isu teknologi semata, melainkan bagian dari arsitektur keamanan nasional.
“Saya memuji Perdana Menteri Netanyahu atas pembentukan Badan Nasional AI untuk menjawab tantangan dan peluang hari ini,” kata Sa’ar, pada Jumat, 16 Januari 2026 seusai menandatangani kerjasama dengan AS, seperti dikutip dari laman resmi Kemenlu Israel.
Pengembangan AI ini akan membuat pertahanan Israel lebih kokoh dalam menghadapi musuh-musuhnya.
“Kepemimpinan di bidang kecerdasan buatan akan menentukan keamanan nasional Negara Israel," lanjutnya.
Menurut Sa’ar, kebijakan AI Israel dirancang dengan kesadaran bahwa stabilitas dan keamanan negara sangat bergantung pada kemampuan teknologi di masa depan.
“Kepemimpinan di bidang AI bukan hanya soal teknologi. Ini adalah soal keamanan nasional,” ujarnya.
Kepala Direktorat Nasional AI Israel, Brigadir Jenderal (Purn.) Erez Eskel, menjelaskan bahwa sejak badan tersebut dibentuk di bawah Perdana Menteri, Israel bergerak cepat membangun fondasi kebijakan nasional dan jaringan kemitraan internasional.
“Sejak pembentukan Direktorat Nasional AI di bawah Perdana Menteri, kami bekerja secara intensif untuk membangun kemitraan dengan negara-negara kunci yang memimpin industri AI global,” kata Eskel.
Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat menjadi mitra utama dalam strategi tersebut, seiring kesamaan kepentingan keamanan dan teknologi antara kedua negara.
Eskel juga menyoroti upaya pembangunan infrastruktur komputasi berkinerja tinggi serta pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari kebijakan AI nasional.
“Kami membangun infrastruktur komputasi berdaya tinggi dan mengembangkan sumber daya manusia untuk industri AI, melalui kerja sama erat dengan akademisi dan industri,” ujarnya.
Penguatan kebijakan AI nasional ini menjadi dasar bagi Israel untuk memperluas kerja sama internasional, termasuk dengan Amerika Serikat, yang kemudian diwujudkan dalam penandatanganan pernyataan bersama di bidang AI. Bagi pemerintahan Netanyahu, kemitraan dengan Washington merupakan konsekuensi strategis dari kebijakan AI yang telah dibangun secara sistematis sejak pertengahan 2025.
Langkah ini menegaskan arah kebijakan Israel yang menempatkan kecerdasan buatan sebagai aset strategis jangka panjang, bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga keunggulan keamanan nasional di kawasan yang penuh tantangan. (*)
