KETIK, BANGKALAN – Kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama menjadi ruang refleksi spiritual bagi warga NU untuk kembali menelusuri akar sejarah dan nilai ruhani kelahiran organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna spiritual.
Melalui napak tilas ini, para peserta diajak menyelami kembali peristiwa sakral yang melatarbelakangi berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sekaligus meneguhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga nilai perjuangan para pendiri NU.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Kholil Staquf, menegaskan bahwa napak tilas ini merupakan upaya untuk mengingat kembali isyarah spiritual agung yang menjadi fondasi berdirinya NU.
Kegiatan tersebut berangkat dari peristiwa isyarah yang bermula dari Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Latif Bangkalan, diteruskan kepada KH As’ad Samsul Arifin, dan kemudian disampaikan kepada Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Isyarah inilah yang diyakini sebagai titik balik penting dalam arah perjuangan rohani dan sosial Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
“Di dalam peristiwa itu terdapat barokah yang sangat besar. Dan hari ini adalah momentum bagi kita semua, segenap warga Jam’iyah Nahdlatul Ulama, untuk kembali mengambil berkah dari peristiwa yang penuh keberkahan ini,” ungkapnya, Minggu, 4 Desember 2026.
Napak tilas ini dipahami sebagai ikhtiar menjemput kembali ruh perjuangan para muassis NU, yakni nilai keikhlasan, keberanian, dan kebijaksanaan ulama pendiri yang harus terus dirawat lintas generasi.
Nilai-nilai tersebut selama ini menjadi kekuatan NU dalam menjaga kesinambungan perjuangan spiritual dan sosial di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Melalui keberkahan napak tilas ini, Jam’iyah Nahdlatul Ulama diharapkan semakin kokoh dalam menjaga amanah para pendiri, tidak hanya bagi kepentingan internal jam’iyah, tetapi juga bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Semoga keberkahan ini membawa kemaslahatan bagi kita semua, bagi bangsa dan negara, serta menjadi bekal kebaikan bagi masa depan seluruh umat manusia,” pungkasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, H. Abdul Halim, yang juga alumni sekaligus Dewan Penasihat Ikatan Keluarga Santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo (IKSASS) Surabaya. Ia menilai napak tilas satu abad Isyarah Pendirian NU sebagai ikhtiar meneguhkan kembali ruh jam’iyah melalui lintasan sejarah peradaban Islam Nusantara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dari KH Fakhruddin Aschal, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Khalil Demangan Barat Bangkalan, kepada KH Azaim Ibrahimi, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, untuk selanjutnya diserahkan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Prosesi ini menjadi simbol estafet nilai, perjuangan, dan spiritualitas para pendiri NU.
Rombongan memulai perjalanan dari Bangkalan menuju Pelabuhan Kamal, menyeberang ke Surabaya untuk berziarah ke Makam Sunan Ampel, lalu melanjutkan perjalanan ke Kantor PCNU Surabaya sebagai representasi kantor BPNU pertama. Selanjutnya, rombongan bertolak ke Stasiun Gubeng menuju Jombang hingga berakhir di Pondok Pesantren Tebuireng, tempat lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
“Rute napak tilas ini merupakan bagian penting dari sejarah besar peradaban Islam Nusantara. Para ulama pendiri NU bukan hanya membangun organisasi keagamaan, tetapi juga meletakkan fondasi kokoh bagi keselamatan dan keutuhan NKRI,” ujar H. Abdul Halim, yang juga menjabat Ketua PD Satria Provinsi Jawa Timur.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjaga relevansi nilai perjuangan para muassis NU agar tetap hidup dan mengalir dalam denyut kehidupan jam’iyah. Napak tilas ini terbuka untuk umum dan tidak terbatas bagi warga NU Madura saja, meskipun pada pelaksanaan perdana jumlah peserta dibatasi maksimal 1.000 orang.
“Napak tilas ini diharapkan menjadi momentum refleksi sejarah sekaligus penguatan identitas NU sebagai pilar keislaman, kebangsaan, dan peradaban di Indonesia,” tutupnya. (*)
