KETIK, SURABAYA – Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Sebagian umat Islam melaksanakan 8 rakaat, sementara yang lain memilih 20 rakaat. Menanggapi hal ini, Ustadz Adi Hidayat (UAH) memberikan penjelasan agar umat tidak terjebak dalam perdebatan yang berpotensi memecah belah.
Dalam ceramahnya yang dikutip dari kanal YouTube Ummu Haniya, UAH menjelaskan bahwa persoalan jumlah rakaat salat tarawih bukanlah masalah pokok dalam ajaran Islam. Ia menegaskan bahwa perbedaan 8 atau 20 rakaat berada dalam ranah furu’ (cabang fiqih), bukan perkara prinsip (ushul) yang menyangkut dasar keimanan atau rukun ibadah.
Karena itu, menurutnya, umat Islam tidak seharusnya menjadikan perbedaan tersebut sebagai sumber konflik atau perpecahan, melainkan menyikapinya dengan sikap dewasa, saling menghormati, dan tetap menjaga persatuan.
“Jangan jadikan jumlah rakaat sebagai sebab perpecahan. Ini masalah cabang dalam fiqih,” tegas Ustadz Adi Hidayat.
Menurutnya, dalam dalil-dalil hadis tidak ditemukan penetapan angka baku secara tegas dari Rasulullah SAW terkait jumlah rakaat tarawih. UAH menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan salat malam dilakukan dua rakaat-dua rakaat tanpa pembatasan tertentu.
“Rasulullah tidak pernah membatasi secara tegas harus sekian rakaat,” ujarnya.
UAH juga memaparkan bahwa baik 8 rakaat maupun 20 rakaat memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Delapan rakaat merujuk pada riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang kebiasaan qiyamullail Nabi yang totalnya 11 rakaat termasuk witir. Sementara 20 rakaat merupakan praktik yang dijalankan pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan disepakati para sahabat.
“Kalau ada yang ambil 8 rakaat, ada dalilnya. Kalau 20 rakaat, juga ada praktik sahabatnya,” jelasnya.
Lebih jauh, UAH menekankan bahwa substansi tarawih bukan terletak pada jumlah rakaat, melainkan kualitas dan kekhusyukan dalam menjalankannya. Ia mengingatkan bahwa tarawih berasal dari kata yang bermakna ketenangan.
“Yang paling penting itu bukan angkanya, tapi kekhusyukannya,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, UAH mengajak umat Islam untuk menjaga persatuan dengan mengikuti imam di masjid masing-masing. Ia menyarankan agar jamaah tidak memaksakan pendapat pribadi ketika sudah berada dalam satu saf.
“Kalau Anda shalat di masjid yang 20 rakaat, ikuti sampai selesai. Kalau 8 rakaat, silakan,” tuturnya.
Perbedaan jumlah rakaat tarawih merupakan bagian dari khazanah fiqih Islam yang memiliki dasar dalil masing-masing. Ustadz Adi Hidayat menegaskan bahwa yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dan persatuan umat. Ramadan seharusnya menjadi momentum mempererat tali peraudaraan, bukan memperuncing perbedaan. (*)
