Menjaga Ekspor dan Menyiapkan Industri Pangan Melalui Program Makan Bergizi Gratis

2 Januari 2026 13:53 2 Jan 2026 13:53

Thumbnail Menjaga Ekspor dan Menyiapkan Industri Pangan Melalui Program Makan Bergizi Gratis
Oleh: Muhammad Sirod*

Kinerja perdagangan Indonesia pada 2025 mencatat hasil di atas ekspektasi. Surplus perdagangan kembali melebar dan pada beberapa bulan mencapai kisaran USD 3–4 miliar per bulan, jauh lebih kuat dibanding proyeksi awal. Kondisi ini menjaga transaksi berjalan tetap solid di tengah tekanan ekonomi global.

Ekspor nasional tetap tumbuh meskipun harga beberapa komoditas utama melemah. Ekspor nonmigas sempat mencatat pertumbuhan tahunan di atas 10 persen pada awal 2025. Tarif efektif Indonesia ke Amerika Serikat yang berada di kisaran 19 persen membantu menjaga daya saing produk manufaktur dan barang konsumsi.

Dampak langsung kebijakan tarif global terhadap Indonesia masih terbatas karena pangsa ekspor ke Amerika Serikat hanya sekitar 9,9 persen dari total ekspor. Diversifikasi pasar ke Asia dan kawasan regional menjaga permintaan tetap stabil meskipun tensi dagang global meningkat.

Di sisi impor, pelemahan paling nyata terjadi pada bahan baku. Impor bahan baku sempat terkontraksi hingga sekitar 4 persen secara tahunan, mencerminkan penyesuaian siklus produksi dan penggunaan stok. Perlambatan ini ikut memperlebar surplus perdagangan dalam jangka pendek.

Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan. Sepanjang 2025, impor mesin dan peralatan tumbuh hingga sekitar 15 persen secara tahunan, menunjukkan aktivitas investasi masih berjalan. Perusahaan mendatangkan mesin untuk membangun kapasitas produksi baru, terutama di sektor manufaktur dan industri pengolahan.

Perbedaan arah antara impor barang modal dan bahan baku menunjukkan fase awal pembangunan industri. Pada tahap ini, fasilitas produksi sedang dipasang dan disiapkan, sementara output penuh belum berjalan. Pola ini lazim terjadi pada fase relokasi industri dan ekspansi kapasitas.

Investasi asing langsung mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 7 persen akibat ketidakpastian global dan koreksi harga komoditas. Namun, investasi domestik meningkat dan menjaga total pembentukan modal tetap stabil. Arus investasi dari China dan Hong Kong justru tumbuh di atas 7 persen, mengindikasikan relokasi industri untuk mendekati pasar regional dan menghindari hambatan tarif.

Dalam konteks domestik, Program Makan Bergizi Gratis membuka peluang industrialisasi pangan berskala besar. Dengan target penerima puluhan juta anak dan ibu hamil, kebutuhan pangan harian diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per tahun untuk beras, protein hewani, sayuran, dan produk olahan. Skala ini menciptakan permintaan yang stabil dan terprediksi.

Permintaan yang besar dan rutin ini berpotensi membentuk rantai pasok pangan yang lebih kuat. Petani, peternak, nelayan, industri pengolahan, logistik dingin, hingga UMKM pangan dapat terhubung dalam satu ekosistem produksi. Industri pengolahan pangan mendapat kepastian pasar, sementara sektor hulu memperoleh kepastian serapan.

Jika dikelola dengan baik, program ini dapat mendorong investasi pada cold storage, pengolahan protein, fortifikasi pangan, dan logistik distribusi di daerah. Efek lanjutan berupa penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas pertanian, dan penguatan industri pangan nasional menjadi lebih nyata dibanding pendekatan bantuan konsumsi jangka pendek.

Ke depan, tantangan utama bukan pada besarnya anggaran, tetapi pada tata kelola rantai pasok. Konsistensi standar mutu, ketepatan distribusi, dan keterlibatan pelaku usaha lokal akan menentukan apakah program ini memperkuat struktur industri pangan atau hanya menjadi belanja rutin negara.

Dengan menjaga ekspor tetap kompetitif dan menyiapkan industri, termasuk industri pangan, Indonesia memiliki peluang mengubah belanja publik dan surplus perdagangan menjadi fondasi pertumbuhan jangka menengah. Kunci keberhasilan terletak pada integrasi kebijakan perdagangan, investasi, dan industrialisasi domestik secara disiplin dan terukur.

*) Muhammad Sirod merupakan Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

opini ketahanan pangan Muhammad Sirod