KETIK, SURABAYA – Ramadan selalu menghadirkan suasana religius yang hangat di berbagai daerah, termasuk di Kampung Geger, Bangkalan, Madura. Di balik semaraknya ibadah masyarakat, terdapat sosok yang dipercaya memimpin jamaah dalam berbagai kegiatan keagamaan, yakni Misbahul Munir (50), imam yang telah mengabdi selama lima tahun terakhir.
Misbahul Munir menceritakan bahwa perannya sebagai imam berawal dari kondisi kampung yang kehilangan para tokoh agama yang sebelumnya memimpin ibadah.
“Saya alhamdulillah jadi imam di Kampung Geger sudah lima tahun, karena tidak ada lagi yang bisa jadi imam. Para kiai sudah meninggal, jadi saya menggantikan menjadi imam,” ujarnya.
Kepercayaan masyarakat kepada dirinya, menurut Munir, tidak lepas dari kemampuannya dalam ilmu tajwid dan bacaan Al-Qur’an. Kemampuan tersebut membuat warga merasa yakin untuk mempercayakan berbagai tugas keagamaan kepadanya.
“Alhamdulillah masyarakat percaya dan antusias. Mereka percaya kepada saya karena saya punya kemampuan ilmu tajwid untuk bacaan Al-Qur’an. Jadi masyarakat mempercayakan kepada saya untuk menjadi imam tarawih atau imam salat Jumat,” jelasnya.
Selama Ramadan tahun ini, Munir juga melihat adanya peningkatan antusiasme masyarakat dalam mengikuti salat tarawih di masjid. Bahkan cuaca hujan tidak lagi menjadi penghalang bagi warga untuk datang berjamaah.
“Antusiasme masyarakat sangat banyak. Perubahannya, meskipun hujan mereka tetap hadir untuk tarawih. Tahun kemarin biasanya tidak hadir, tapi sekarang tetap datang karena diberi tahu bahwa pahalanya besar,” katanya.
Bagi Munir, makna Idulfitri sendiri sangat sederhana namun mendalam. Ia memaknai hari kemenangan sebagai kembalinya manusia pada kesucian fitrahnya setelah menjalani proses latihan spiritual selama Ramadan.
“Makna Idulfitri sangat sederhana, manusia asalnya fitri, fitrah suci kembali ke kesuciannya. Manusia itu sering melakukan hal-hal yang keliru atau bertentangan dengan aturan agama Islam. Maka dari itu di bulan Ramadan ini manusia harus melatih kembali ke fitri lagi,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Munir menyampaikan pesan kepada masyarakat agar ibadah puasa tidak sia-sia. Ia mengingatkan pentingnya menjaga perilaku dan ucapan selama Ramadan.
“Supaya pahala kita tetap kita dapat, kita harus menjaga kelakuan kita supaya tidak hilang pahalanya puasa. Karena kata Rasulullah banyak orang yang puasa hanya mendapat lapar dan hausnya saja,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga salat wajib, sopan santun, serta akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan tinggalkan salat wajib, sopan santun terhadap sesama saudara tetap dijaga, beradab dan berakhlakul karimah,” pungkasnya. (*)
