KETIK, SURABAYA – Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan kebahagiaan. Setelah sebulan penuh menjalani Ramadan, momen Lebaran hadir sebagai puncak kemenangan.
Ditandai dengan baju baru, hidangan khas, hingga berkumpul bersama keluarga besar. Namun di balik euforia tersebut, tidak sedikit orang yang diam-diam merasakan tekanan sosial.
Tradisi silaturahmi yang seharusnya menjadi ruang kehangatan, terkadang berubah menjadi ajang pertanyaan yang sensitif.
“Kapan nikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, hingga “Gajinya berapa?” menjadi pertanyaan yang seolah wajib muncul di setiap pertemuan keluarga. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar ringan, tetapi bagi yang belum mencapai ekspektasi sosial tertentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terasa menekan.
Selain itu, ada pula tekanan finansial yang tidak bisa diabaikan. Tunjangan Hari Raya (THR), kebutuhan mudik, hingga pengeluaran untuk kebutuhan Lebaran sering kali membuat seseorang merasa harus tampil “cukup” di hadapan orang lain. Tidak jarang, standar kebahagiaan saat Lebaran diukur dari seberapa meriah perayaan yang bisa ditampilkan.
Fenomena ini sejalan dengan pandangan psikolog sosial, Erving Goffman, yang menyebut bahwa dalam kehidupan sosial, manusia cenderung “bermain peran” untuk membentuk kesan tertentu di hadapan orang lain. Dalam konteks Lebaran, banyak orang tanpa sadar berusaha menampilkan versi terbaik dari dirinya, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.
Realitas ini menunjukkan bahwa Lebaran tidak selalu menjadi momen yang sepenuhnya ringan bagi semua orang. Ada yang pulang dengan bahagia, tetapi ada pula yang pulang dengan beban ekspektasi. Oleh karena itu, penting untuk mulai membangun kesadaran bersama bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
Lebaran seharusnya menjadi ruang yang aman bukan untuk menghakimi, tetapi untuk saling menguatkan. Mengganti pertanyaan yang menekan dengan doa dan dukungan sederhana bisa menjadi langkah kecil yang berarti.
Pada akhirnya, euforia Lebaran akan terasa lebih tulus ketika kebahagiaan tidak lagi diukur dari standar sosial, melainkan dari keikhlasan hati dalam menerima diri sendiri dan orang lain. Karena sejatinya, kemenangan di hari raya bukan tentang terlihat “berhasil”, tetapi tentang menjadi pribadi yang lebih lapang dan penuh empati. (*)
