Sebagian masjid di Surabaya dan Gresik usai salat tarawih kelihatan ramai. Jemaah yang selesai salat sunnah tersebut tidak langsung pulang ke rumah. Mereka sarapan kedua alias makan kedua kalinya setelah berbuka puasa.
Lampu di dalam masjid tidak dipadamkan. Sebagaimana setelah selesai salat Isya. Lampu dalam maupun di serambi masjid tetap menyala.
Di ruang utama salat, ada jemaah yang bertadarus. Salat sunah, zikir, iktikaf dan adapula yang berdiskusi. Topik obrolan kali ini cerita turunnya malam Lailatulqadar.
Malam Lailatulqadar selalu menjadi topik setiap Ramadan. Meski bukan hal baru, tapi masih menjadi pembicaraan yang “gayeng”.
Pada hari Rabu, 10 Maret 2025 sudah memasuki malam ganjil. Malam ganjil berikutnya tanggal 12 dan tanggal 14 Maret. Tinggal malam ganjil yang diprediksi terakhir 19 Maret.
Malam ganjil di atas diprediksi Lailatulqadar akan turun ke bumi. Selain itu, bulan Ramadan juga merupakan bulan istimewa. Turunnya Al-Qur'an Quran dan Lailatulqadar.
Menanti Lailatulqadar tidak saja dilakukan di dalam masjid. Tapi ada jemaah yang keluar masjid. Atau yang tinggal di rumah keluar pada malam hari. Mereka melihat suasana tanda-tanda turunnya Lailatulqadar.
Menurut sebagian ulama, Lailatulqadar tidak bisa diprediksi malam ganjil atau pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Lailatulqadar turun bukan seperti meteor dari langit.
Jemaah yang penasaran menunggu Lailatulqadar melakukan berbagai kegiatan. Ada jemaah yang berziarah ke makam waliyullah.
Di makam wali, mereka juga melakukan kegiatan spiritual. Membaca Surat Yasin, tahlil dan berzikir sambil memutar-mutar anak tasbih.
Suasana malam ganjil memang berbeda dengan malam sebelumnya. Bila cuaca tidak mendung dan hujan, udara di luar rumah terasa dingin.
Semakin malam cuaca tambah dingin. Bahkan cuaca dingin tersebut bisa sampai terasa dalam tubuh.
Angin yang berhembus sayup-sayub menambah suasana malam ganjil terasa aman dan tentram. Sebagian jemaah ada yang memprediksi bahwa malam tersebut tanda-tanda Lailatulqadar akan turun.
Dalam suasana keheningan malam, masih terdengar jemaah yang ber-tadarus. Mereka harus khatam Al-Qur'an sebelum malam takbir Ramadan.
Para malaikat bersama malaikat Jibril dengan seizin Allah turun ke bumi hingga waktu fajar (Surat ke 89 Al-Fajr). Para malaikat ini ke bumi sambil membawa kabar gembira untuk umat manusia.
Lailatulqadar diyakini sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itulah malam yang baik ini tidak sampai dilewatkan begitu saja. Belum tentu kita masih berusia panjang sehingga bisa berjumpa bulan Ramadan lagi.
Pada malam ganjil, umat Islam diharapkan banyak melakukan kebaikan. Baik kebaikan yang diwujudkan dalam bentuk sedekah maupun amal jariah yang lain.
Nah, satu hal perlu diingat pada malam seribu bulan ini adalah mensucikan hati. Mengapa hati harus bersih dan suci. Sebab, pada saat merayakan Idulfitri kita benar-benar suci ibaratnya bayi yang baru lahir.
Memberikan zakat fitrah diyakini bisa membantu mensucikan hati. Zakat yang satu ini bisa berupa beras atau sejumlah uang yang sudah ditetapkan.
Zakat tersebut wajib diserahkan sebelum terdengar takbir hari raya Idulfitri. Perlu diingat, sepuluh hari terakhir bulan Ramadan 1447 H hanya tinggal beberapa hari. Masih ada kesempatan untuk beramal.
Lailatulqadar merupakan anugerah besar. Insyaallah semua doa yang dipanjatkan dikabulkan kecuali bagi yang berbuat syirik. Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 H.
*) Sudirman adalah Jurnalis Senior dan Anggota Dewan Redaksi Ketik.com
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
