KETIK, JAKARTA – Di bawah bayang-bayang raksasa Royal Clock Tower (Zam zam Tower) yang membelah langit Makkah al-Mukarramah, Arab Saudi, sebuah perjumpaan tanpa rencana sebelumnya terjadi pada Selasa 10 Maret 2026.
Jurnalis Ketik.com secara tidak sengaja berpapasan dengan Sapto Nugroho Wusono SH MH, sosok sentral di balik LBH Sembada Sleman Yogyakarta. Pertemuan itu mengalir tanpa janji temu yang kaku, hanya bermodal koordinasi singkat lewat pesan instan hingga akhirnya bersua di titik gravitasi jemaah Indonesia: area sekitar WC 3 Masjidil Haram.
Bagi Sapto, keberadaannya di jantung kota suci ini adalah sebuah "interupsi" yang direncanakan dengan matang. Ia memilih untuk menanggalkan sementara jubah advokatnya, meninggalkan tumpukan berkas perkara yang berkaitan dengan sengketa dan pasal-pasal hukum di tanah air.
Keputusannya untuk menepi ke Baitullah selama belasan hari, terhitung sejak 7 Maret 2026 hingga setelah fajar Idulfitri menyingsing, bukan sekadar pelesir religi, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjernihkan batin dari riuhnya dunia litigasi.
"Ada saatnya argumen hukum harus tunduk pada ketetapan langit," tutur Sapto dengan nada tenang.
Baginya, meninggalkan hiruk-pikuk ruang sidang adalah investasi spiritual yang tak ternilai. Di tengah kepadatan jemaah yang mengejar kemuliaan sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 H, ia memilih untuk menukarkan ketegangan meja hijau dengan kedamaian sujud di pelataran Ka’bah.
Ia percaya bahwa keadilan yang ia perjuangkan di LBH Sembada membutuhkan fondasi nurani yang harus selalu diasah di tempat-tempat mustajab.
Keputusan Sapto untuk tetap bertahan di Makkah hingga hari kemenangan nanti untuk selanjutnya bergeser ke Madinah membawa pesan kuat tentang keseimbangan hidup.
Di area WC 3 yang ikonik sebagai "pos penjagaan" informal warga Nusantara, identitasnya sebagai pembina lembaga bantuan hukum melebur dengan jutaan jamaah lainnya. Tak ada lagi sekat formalitas; yang tersisa hanyalah seorang hamba yang sedang menjemput energi positif Lailatul Qadar demi memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil yang selama ini ia dampingi.
Hingga gema takbir berkumandang nanti, Sapto Nugroho memilih untuk terus bersimpuh, menjauh dari riuhnya perdebatan hukum demi mencari kebenaran yang lebih hakiki.
Baginya, meninggalkan berkas perkara di meja kantor untuk sementara waktu adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa sekembalinya ke tanah air nanti, ia tak hanya membawa kepastian hukum, tetapi juga ketajaman hati nurani yang telah ditempa oleh atmosfer suci kota Makkah.(*)
