Dalam konsep Islam, ditegaskan bahwa “sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, khairunnas anfa’uhum linnas’. Keberadaan manusia di dunia, selain untuk menghamba pada Allah, juga menjadi “khalifah fil ard” (wakil Tuhan di muka bumi)—juga bisa dimaknai menjadi pemimpin. Tugasnya adalah menyebarkan kebajikan dan kebaikan, termasuk membantu dan menolong orang lain.
Orang yang bermanfaat pada orang lain tentu adalah orang yang bahagia. Ia umumnya akan dihargai karena kebaikannya dan kebermanfaatnya. Tak jarangan kekaguman dan sanjungan diberikan.
Tapi tak jarang pula akhirnya mereka mabuk sanjungan, akhirnya lupa diri, dan melupakan Tuhannya. Akhirnya mereka sombong. Merasa bermanfaat pada orang lain, akhirnya justru menganggap bahwa nasib orang lain tergantung padanya—lupa pada kekuasaan Tuhan yang pengendali takdir dan yang Maha Kuasa.
Semakin kita punya harga diri, semakin kita bahagia. Semakin kita dihargai, semakin pula kita bahagia. Merasa ada—merasa dihargai, dinilai bahwa keberadaan kita memiliki nilai yang bermanfaat—membuat kita bahagia. Berbeda dengan situasi di mana kita tidak dihargai karena dianggap tidak berguna, apalagi dicap sebagai orang yang malah “parasit”, bahkan dicap “sampah masyarakat”.
Kalau kualitas manusia berada pada level “sampah masyarakat” berarti dia bukan hanya dianggap tidak membawa kemanfaatan, tapi justru malah merugikan dan membuat orang lain merasa susah. Sayangnya, umumnya orang mengidentifikasi kaum yang merugikan itu hanya pada kalangan bawah—misal ada orang yang mencuri dan pencurinya dari kalangan miskin.
Mengetahui ada orang yang mencuri pisang di kebun, respon dari masyarakat sesama dari kaum bawah justru sangat responsif dan bahkan reaktif. Si pencuri dipukuli sampai babak belur. Si pencuri diarak dan dipermalukan.
Sedangkan orang-orang yang merugikan orang lain bisa jadi dari kalangan atas. Misalnya orang berseragam, yang punya jabatan, yang mencuri uang Negara yang berasal dari pajak rakyat. Kenapa masyarakat tidak terlalu bereaksi pada mereka yang sebenarnya benar-benar merugikan orang banyak, merusak Negara, dan bisa dikatakan musuh orang banyak alias public enemy.
Dan masyarakat juga cenderung tidak menaruh curiga dan kurang kritis terhadap orang-orang yang punya jabatan dan kedudukan di lembaga publik yang jelas-jelas punya tugas melayani publik. Rakyat yang merupakan tuan dari para pegawai pemerintah itu justru seringkali takut, sungkan, lebih hormat daripada dengan tetangganya atau saudaranya sendiri yang tak punya jabatan.
Mereka lebih suka bergibah dengan nada curiga dan membicarakan kejelekan tetangga sendiri yang sama-sama dari kelas bawah daripada menggibah tentang perbuatan para koruptor dan penipu rakyat.
Di situlah tidak adilnya. Menilai orang lain—termasuk memberikan penilaian terhadap harga diri orang lain—seharusnya proporsional. Orang miskin sebenarnya punya value yang tak kalah pentingnya dengan orang kaya dan para pembesar (mustakbirin). Tanpa rakyat, Negara tak akan berjalan.
Para pejabat Negara dan seluruh pegawai itu bisa hidup ya karena rakyat membayar pajak. Negara akan macet tanpa kontribusi rakyat. Fakta menunjukkan bahwa anggaran Negara paling besar didapat dari pajak, bukan dari pengelolaan badan usaha milik Negara (BUMN) yang dikelola oleh para pejabat. BUMN malah kebanyakan jadi ladang korupsi.
Sekali lagi, merasa tidak berharga—dan merasa tidak dihargai—merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan. Jadi kalau kita mau membuat orang lain bahagia, yang harus kita lakukan adalah membuat mereka berarti.
Rakyat miskin bahkan di tengah kemiskinannya masih mau bersabar, dan masih berusaha untuk baik hati. Sebagian kecil memang cenderung putus asa dan tidak bersabar untuk konsisten menjalani hidup berdasarkan aturan moral kemanusiaan maupun agama.
Ada yang tidak sabar untuk bekerja keras, sehingga mencari jalan pintas dalam mencari penghasilan. Bisa jadi mereka sebenarnya sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi tidak ada jalan.
Mereka yang tertangkap mencuri uang di kotak amal di sebuah masjid dan mencuri pisang di kebun orang lain, yang kemudian tertangkap, bisa jadi memang sudah terpaksa melakukannya. Mau mengemis malu, dan itu memang perbuatan yang hina yang terlihat banyak orang. Mereka memilih mencuri—mengambil secara sembunyi-sembunyi (tidak terlihat).
Mungkin kita menilai mereka kurang beriman, sebab kalau mereka percaya agama seharusnya mendapatkan pemahaman bahwa Allah Maha Melihat dan pemahaman ini membuat mereka akan tidak mencuri.
Tapi sejauh mana keimanan dan ketakwaan itu terbangun oleh ketertekanan hidup akibat ekonomi yang sangat sulit. Inilah yang barangkali relevan dengan sebuah hadis yang menyatakan bahwa “kemiskinan mendekatkan orang pada kekufuran”.
Kita pun tidak tahu sejauh mana batas-batas kemiskinan yang membuat mereka bisa bersabar atau tidak. Faktor keadaan material dan lingkungan seringkali juga menjadi penyebab kenapa orang terjatuh pada perbuatan dosa.
Sejak rumah bordir kelas bawah (lokalisasi) dibubarkan, cara bagi perempuan kelas bawah untuk mencari penghasilan dengan cara menjual diri sudah tidak ada lagi. Tapi prostitusi yang berlevel agak menengah ke atas terjadi dan bahkan mungkin merajalela.
Ada pelacur yang harganya sekali “main” adalah Rp 80 Juta—pelacur selebritis. Pelacuran, yang dicap sebagai bentuk pekerjaan yang merupakan kekufuran, mainnya tidak lagi terlokalisir di suatu kompleks (lokalisasi), tapi di hotel-hotel dan penginapan atau di manapun mereka bisa.
Ternyata kalau kita lihat, orang miskin sebenarnya lebih punya daya tahan untuk tidak berbuat dosa. Beda dengan kelas di atasnya, yang kadang mencari uang dengan berbagai cara bukan untuk bertahan hidup, tapi karena agar dikagumi karena kekayaan dan kemewahannya—karena gaya hidupnya, karena ambisinya untuk tampil lebih baik. Ibu-ibu sosialitas yang harga skincare-nya jutaan bisa jadi menjadi penyebab suami yang korupsi.
Demi kebahagiaan istri, seorang suami yang punya jabatan terus ingin mendapatkan penghasilan yang lebih, lalu mereka korupsi uang Negara. Demi menyenangkan istri dan wanita simpanan, tak jarang para pejabat mencari duit sebanyak-banyaknya dengan mencuri uang Negara. Pun di kalangan perempuan pelacur sendiri, mereka yang butuh membiayai gaya hidupnya yang ‘glamour’, mereka rela menjual tubuhnya.
Sedangkan, ketika rakyat miskin melakukan pekerjaan mencari penghasilan yang bernuansa dosa sekalipun sebenarnya mereka juga masih punya rasa kemanusiaan. Para pekerja sektor yang disebut “kotor” atau “dosa” dari kalangan rakyat bawah itu bahkan terpaksa melakukannya karena memperjuangkan sesuatu kebaikan.
Dulu, pada saat prostitusi—yang oleh orang alim disebut bisnis maksiat—masih banyak terjadi di kalangan kaum bawah, seorang perempuan pelacur murah dan jelek sendiri masih bisa berdoa pada Tuhan. Dan mereka melakukannya karena mencarikan nafkah untuk orang lain, terutama anak-anaknya.
Seperti digambarkan dalam lirik lagu Iwan Fals “Doa Pengobral Dosa”, mereka masih punya doa. Pertama-tama mereka berdoa: “Oh, Tuhan beri setetes rejeki” dalam hati yang “resah menjerit bimbang”—agar anak-anaknya bisa makan. Dan dalam bimbang pula mereka berdoa pada Tuhan: “Beri terang anak hamba, kabulkanlah, Tuhan!”
Kemiskinan memang bisa menyebabkan mereka berbuat dosa. Tapi pada saat yang sama mereka juga bisa menjadi dekat dengan Tuhan.
Memang, keberimanan itu dinamis, naik dan turun. Bagi yang pemahamannya akan nilai-nilai hidup belum pada tahap yang dalam, ketakwaan bisa naik turun. Situasi sosial dan kondisi ekonomi bisa merubah keimanan dan ketakwaan. Kalau orang awalnya tidak begitu religius, tapi suatu saat ketika kondisi ekonominya menjadi berubah lalu tiba-tiba ia menjadi religius, ya itulah bukti bahwa keimanan itu dinamis.
Kadang ada yang menyebutnya sebagai “jalan yang ditakdirkan Allah”—dan kita tidak bisa memvonis apakah dugaan itu benar atau salah. Masalahnya kita juga tidak tahu kehendak Allah dan tak bisa memahami rahasia Allah. Ada orang yang tiba-tiba rajin ibadah, bahkan gabung komunitas tarekat (torikoh) setelah kondisi hidupnya terpuruk.
Pada saat ekonominya jaya dan hubungannya dengan istrinya baik-baik saja, misalnya, saat hidupnya banyak kesenangan, ia kurang rajin ibadah dan bahkan tidak religius. Tapi ketika ekonomi memburuk dan jalinan cintanya terganggu, ia pun jadi rajin ibadah.
Pun sebaliknya, ada orang yang saat masih miskin rajin ibadah, tetapi begitu hidupnya dipenuhi dengan kemudahan duniawi, akhirnya religiusitasnya menurun drastis. Karena kekayaan dan kekuasaan, ia jadi sombong dan bahkan tamak.
Lalu jauh dari Allah, tak lagi terbersit di pikiran dan perasaannya untuk mematuhi perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bahkan dengan posisi dan kedudukannya, ia terus saja mengejar kepentingan duniawi.
Ia merasa berharga karena harta dan kekuasaannya karena dengan hal itu memang banyak orang yang mengaguminya, mendekat padanya, menyanjungnya. Semakin ia kecanduan pada sanjungan, dan ia berpikir bahwa harta dan kekuasaanlah yang menjadi sumber penyebab diberikannya sanjungan dan pujian.
Maka ia pun terus menumpuk-numpuk harta dan kekuasaan, karena hal itulah yang kemudian menjadi sandaran eksistensi dirinya. Ia yang merasa bisa mengendalikan orang lain dengan harta dan kekuasaannya ini, yang kehendak-kehendak dan keinginan-keinginannya selalu terpenuhi ini, semakin terlena.
Karena dengan kekayaan dan kekuasaan ia mendekati sifat Allah yang Maha Berkehendak, maka ia pun menjadi pesaing Tuhan. Ia ingin kehendaknya terpenuhi. Siapa yang menghalangi kehendaknya, akan disingkirkan!
Ia merasa mencapai tempat yang setinggi-tingginya dan bahkan merasa menjadi manusia “sebaik-baiknya bentuk”.
Tapi dalam Surat At-Tin dikatakan bahwa manusia juga bisa jadi diturunkan oleh Allah ke tempat yang serendah-rendahnya (‘asfala safilin’). Dan kita melihat, sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya orang berkuasa yang merasa bisa mengatur segalanya, mereka pun akhirnya jatuh.
Para pemimpin otoriter akhirnya tumbang, sosoknya yang awalnya dipuja akhirnya dihujat dan namanya yang dulu harum akhirnya menjadi tercemar.
Di antara naik-turunnya nasib manusia dalam hidup dari sisi ekonomi dan kekuasaan, lantas apakah keberimanan dan moral kemanusiaannya cenderung mengikuti dan menghiasinya? Banyakkah orang yang tetap konsisten menjadi orang baik, baik dalam keadaan miskin atau kaya, baik dalam kondisi berkuasa atau tidak punya kekuasaan? Tidak banyak, tapi masih ada.
Kita bisa melihat ada orang yang namanya tetap harum baik pada saat berkuasa atau tidak berkuasa, baik saat punya kedudukan (jabatan) dan kekayaan atau tidak. Tapi orang seperti itu tidaklah banyak. Meskipun tidak banyak tapi masih ada.
Miskin tetap bersabar, tapi terus berusaha agar bebas dari kemiskinan. Kaya juga tetap menyadari bahwa kekayaannya bukan miliknya, dan tetap bisa rendah hati dan tidak sombong. Miskin tidak susah, kaya juga tidak pongah!
*) Nurani Soyomukti merupakan pegiat literasi di Komunitas Jaringan Muda Keranjingan Ilmu dan Filsafat QLC Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
