Lebak RUHAY 2026 Resmi Diluncurkan, Disbudpar Genjot Desa Wisata Berbasis Potensi Lokal

11 Februari 2026 22:58 11 Feb 2026 22:58

Thumbnail Lebak RUHAY 2026 Resmi Diluncurkan, Disbudpar Genjot Desa Wisata Berbasis Potensi Lokal

Flyer peluncuran program Lebak RUHAY 2026, Rabu, 11 Februari 2026. (Foto: Usep for Ketik.com)

KETIK, LEBAK – Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) resmi meluncurkan program Lebak RUHAY, Pembinaan dan Penilaian Desa Wisata Kabupaten Lebak Tahun 2026. 

Program ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam mendorong penguatan desa wisata berbasis potensi lokal dan partisipasi masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, M. Yosep Holis, mengatakan program ini tidak hanya berorientasi pada penilaian, tetapi juga pembinaan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas dan daya saing desa wisata di Lebak.

“Melalui Lebak Ruhay 2026, kami ingin memastikan desa wisata di Kabupaten Lebak berkembang secara terarah, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Ini bukan sekadar kompetisi, tetapi upaya pembinaan menyeluruh,” ujar M. Yosep Holis kepada ketik.com, Rabu 11 Februari 2026.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kriteria utama dalam penilaian desa wisata. Di antaranya aspek aksesibilitas, seperti kondisi jalan menuju desa yang dapat dilalui kendaraan roda empat serta tidak terganggu bencana musiman. 

Selain itu, ketersediaan amenitas dan infrastruktur juga menjadi perhatian, meliputi homestay, lahan parkir, toilet umum, pusat informasi wisata (tourism center), fasilitas kesehatan, listrik, internet, air bersih, hingga pengelolaan sampah yang baik.

“Desa wisata juga harus memiliki kunjungan minimal 50 wisatawan per bulan, serta rencana mitigasi bencana sesuai dengan potensi kerawanan wilayah masing-masing,” tambahnya.

Tidak hanya itu, aspek atraksi wisata turut menjadi penilaian penting. Desa memiliki daya tarik alam unik yang dikelola masyarakat, tradisi, kesenian, ritual, maupun peninggalan budaya khas. 

Kegiatan kehidupan asli masyarakat yang dapat diikuti wisatawan, serta penyelenggaraan event budaya dan pengembangan produk kuliner maupun kriya berbahan baku lokal juga menjadi indikator penilaian.

Dari sisi kelembagaan, desa wisata memiliki Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau BUMDes yang aktif, serta tata kelola yang terdokumentasi dengan baik. 

Sementara pada aspek sumber daya manusia, masyarakat didorong memiliki persepsi positif terhadap pariwisata, budaya gotong royong, sikap terbuka terhadap wisatawan, hingga adanya local champion penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif.

Program Lebak Ruhay 2026 akan melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengisian Google Form, kurasi 50 besar desa wisata terbaik, seleksi 10 besar, hingga pembinaan oleh tim khusus. Selanjutnya dilakukan penilaian oleh tim penilai independen, penerbitan Surat Keputusan (SK) Bupati bagi desa yang memenuhi syarat, serta pengumuman tiga desa wisata terbaik beserta skor penilaiannya.

Menurut Yosep, tiga desa wisata terbaik nantinya akan mendapatkan fasilitasi pembinaan lanjutan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan pemerintah daerah.

“Harapan kami, desa wisata di Lebak tidak hanya unggul dalam penilaian, tetapi benar-benar siap menjadi destinasi yang berkualitas, berkarakter, dan berkelanjutan. Dengan semangat Lebak Ruhay, kita optimalkan potensi lokal untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Program ini sekaligus mempertegas komitmen Pemerintah Kabupaten Lebak dalam menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah berbasis budaya, alam, dan kearifan lokal. (*)

Tombol Google News

Tags:

Penilaian Desa Wisata Pembinaan Lebak RUHAY Kabupaten Lebak Disbudpar Lebak M. Yosep Holis ketik.com Ruhay 2026 Desa Wisata Lebak Pariwisata Lebak Desa Wisata 2026 Ekonomi Kreatif Lebak