Cerita Perjuangan MUA Batch 18 BFBL hingga Tembus Standar Coach

11 Februari 2026 23:06 11 Feb 2026 23:06

Thumbnail Cerita Perjuangan MUA Batch 18 BFBL hingga Tembus Standar Coach

Tim 8 Beauty For a Better Life. (Foto: Fitra Herdian/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Mewujudkan visi untuk menghasilkan riasan yang sempurna di wajah model bukanlah hal yang mudah.

Tantangan itulah yang dihadapi oleh Naning, Wiwit, Inna, bersama tiga rekan setimnya dalam tim Makeup Artist (MUA) Batch 18 dalam program Beauty For a Better Life (BFBL).

Perjalanan tim ini menuju kelulusan penuh dengan dinamika. Masa persiapan tugas akhir menjadi ujian batin sekaligus teknis yang sesungguhnya.

Bagi mereka, menyatukan visi enam orang untuk diaplikasikan ke satu wajah muse bukanlah perkara mudah. Tantangan semakin berat saat hasil latihan awal dinilai belum memenuhi standar panggung oleh trainer.

“Kami sempat mengalami perdebatan yang cukup serius. Bahkan, jujur saja, riasan saat latihan awal itu hasilnya berantakan seperti barongsai,” kenang mereka sambil tertawa, mengenang masa-masa sulit tersebut.

Bagi Inna, salah satu anggota tim, urusan makeup bukan sekadar menempelkan warna, melainkan soal presisi dan pemahaman mendalam. Ia mengakui tantangan tersulit adalah menyesuaikan riasan dengan karakter wajah yang berbeda-beda.

"Dulu kami asal 'hantam' foundation saja, tapi di sini kami belajar bahwa setiap jenis kulit punya perlakuan berbeda. Tidak mudah membuat produk menempel sempurna jika tekniknya salah. Setelah diskusi panjang dan beberapa kali revisi agar sesuai standar Coach Miss Pu, akhirnya kami menemukan titik temu yang pas," tegas Naning.

Sentuhan tangan tim Batch 18 ini dirasakan langsung oleh Arista, sang muse (model). Mengenakan kostum tradisional Cina (Hanfu) dengan riasan bertemakan Imlek, Arista mengaku sangat puas meski awalnya sempat gugup. Karena Bagi Arista, ini adalah pengalaman pertamanya dirias dengan konsep karakter.

"Senang sekali dan seru. Dari yang awalnya tidak tahu teknik makeup, sekarang jadi paham hasil yang flawless itu seperti apa. Prosesnya cukup intens sekitar 1,5 jam, tapi hasilnya sangat memuaskan," ujar wanita asal Banyuwangi yang kini menetap di Surabaya tersebut.

Aksi kreatif para MUA ini merupakan bagian dari program Spektra, sebuah NGO yang berkolaborasi dengan L’Oreal dalam program Beauty For a Better Life (BFBL). Miss Pu, selaku trainer di TCC Surabaya, menjelaskan bahwa program ini adalah sekolah rias gratis yang didedikasikan untuk memberdayakan perempuan agar memiliki kemandirian ekonomi.

"Spektra adalah wadahnya, dan L'Oreal yang memberikan dukungan. Kami hadir di beberapa kota seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Malang untuk membangkitkan semangat perempuan agar mampu mandiri secara finansial melalui keahlian makeup," jelas perempuan yang akrab disapa Miss Pu itu.

Lebih lanjut, Miss Pu menerangkan bahwa pendampingan tidak berhenti saat kelas usai. "Kami tidak sekadar melatih lalu melepas, kami pantau terus perkembangannya bahkan setelah mereka menjadi alumni."

Hingga saat ini, program pendidikan intensif selama dua bulan tersebut telah melahirkan ratusan alumni. Banyak di antaranya yang kini sukses merintis karier sebagai Makeup Artist (MUA) pernikahan profesional secara mandiri.(*)

Tombol Google News

Tags:

Beauty For A Better Life BFBL L'Oreal Spektra NGO SpeKTRA Pemberdayaan perempuan