KETIK, BREBES – Di tengah hiruk-pikuk dunia usaha Tanah Air, muncul sebuah nama yang kini menjadi buah bibir. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena perjalanan hidupnya yang dianggap hampir mustahil.
Adalah H. Muhadi Setyabudi, pria dari Desa Cimohong Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes Jawa Tengah dan pemegang CEO PT Dedy Jaya Grup.
Dalam sebuah kesempatan, ia membeberkan kisahnya. Bermula dari titik nol sebagai pengangguran lepas dari kondektur bus di era 90-an, kini sukses menggenggam ratusan unit bisnis dengan aset yang ditaksir mencapai ratusan milyar.
Berkat ketekunannya, di tahun 1992 ia bahkan sempat diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan Upakarti dan diberikan kembali ditahun 1994 langsung dari Presiden RI atas kontribusinya dalam ekonomi kerakyatan.
Oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pengusaha muda, ia kini dijuluki sebagai "Bapak Inspirator Bisnis".
Titik Terendah: Modal Pinjaman Rp50 Ribu
Perjalanan suksesnya tidak semanis yang dilihat sekarang. Pada tahun 1990-an, ia sempat mengalami masa sulit setelah berhenti bekerja sebagai kondektur bus. Menjadi pengangguran di tengah tuntutan hidup tidak membuatnya menyerah.
Dengan dukungan penuh sang istri, ia memberanikan diri meminjam uang sebesar Rp50.000—yang jika dikonversi ke nilai mata uang saat ini berkisar Rp2 juta. Modal kecil itulah yang ia gunakan untuk merintis usaha pertama sebagai penjual bambu.
"Dulu, kami hanya punya semangat dan doa. Modal 50 ribu itu kami putar dengan sangat hati-hati untuk jualan bambu. Istri saya adalah pilar yang paling kuat saat saya hampir menyerah," kenangnya saat ditemui dalam sebuah acara ramah tamah di Grand Dian Hotel Guci Tegal, Sabtu 24 Januari 2026.
Kesuksesan yang melesat bak meteor tak jarang mengundang selentingan negatif. Seiring dengan kekayaannya yang naik drastis hingga memiliki ratusan aset, ia sempat diterpa isu tak sedap. Sebagian orang menuduhnya melakukan "pesugihan" atau cara instan untuk kaya.
Menanggapi hal tersebut, sang pengusaha hanya tersenyum ramah. Ia menegaskan bahwa "pesugihan" yang ia lakukan hanyalah perpaduan antara kerja keras dan kekuatan spiritual.
"Kalau ditanya kuncinya apa, kuncinya adalah perjuangan suami istri yang saling menguatkan. Kami tidak pernah bosan memohon kepada Illahi. Doa dan kerja keras adalah kombinasi yang tidak akan mengkhianati hasil. Tidak ada cara instan, semuanya adalah proses panjang yang berdarah-darah," tegasnya.
Meski telah menjadi miliarder, sosoknya tetap dikenal sangat rendah hati dan dermawan. Ia dikenal tidak segan turun langsung terjun ke masyarakat, memberikan bantuan sosial atau sekadar berbagi ilmu bisnis kepada para pemuda di desanya.
Bahkan acara ramah tamah bersama LSM dan wartawan difasilitasi semua oleh dirinya, dimana grand Dian Hotel Guci Tegal juga merupakan salah satu aset kekayaan yang ia miliki.
Bagi banyak orang, ia bukan sekadar pengusaha sukses, melainkan simbol harapan. Kisahnya membuktikan bahwa latar belakang sebagai kondektur bus bukanlah penghalang untuk meraih penghargaan tertinggi dari negara, asalkan memiliki mentalitas baja dan restu dari keluarga.
Kini, melalui ratusan bisnis yang dimilikinya, ia terus berkomitmen untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya, sembari tetap memegang prinsip hidup: Semakin tinggi pohon, semakin kuat akar harus menghujam bumi.
Azmi Asmuni Majid, tokoh masyarakat dan akademisi Brebes menyebutkan sosok Muhadi Setyabudi layak disebut sebagai Bapak Inspirator Bisnis.
"Sosok Bapak Muhadi patut dicontoh, Beliau layak disebut sebagai "Bapak Inspirator Bisnis" dengan kegigihanya beliau mampu membuktikan menjadi milyader, Dan kisah perjuanganya menurut kami bisa dibukukan untuk inspiratif anak anak muda ke depan,* kata Azmi.(*)
