Keracunan Makanan Santri di Jombang, Buka Tabir Dugaan Permainan Dapur MBG

6 Maret 2026 12:35 6 Mar 2026 12:35

Thumbnail Keracunan Makanan Santri di Jombang, Buka Tabir Dugaan Permainan Dapur MBG

Salah satu santri yang mengalami gejala keracunan menjalani perawatan di RS PKU Muhamadiyah Mojoagung, Kabupaten Jombang, Rabu 5 Maret 2026. (Foto: Syaiful Arif/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Puluhan santri di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap hidangan berbuka puasa di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Juma, 6 Maret 2026.

Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan makanan, tetapi juga memunculkan sorotan terhadap pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jombang.

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 80 santri mengonsumsi hidangan berbuka puasa yang salah satu menunya berasal dari paket program MBG.

Namun setelah makan, 32 santri mengalami keluhan kesehatan seperti mual dan muntah yang mengarah pada dugaan keracunan makanan.

Dari jumlah tersebut, 10 santri sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Sementara 22 santri lainnya masih menjalani perawatan medis.

Menu yang disantap para santri saat berbuka antara lain nasi rawon, tahu goreng, tahu kering, dan telur asin. Makanan tersebut disajikan dalam satu porsi untuk setiap santri.

Menurut keterangan para santri, beberapa komponen lain dari paket MBG seperti roti, susu, kacang, dan kurma belum sempat dikonsumsi saat berbuka.

Informasi awal menyebutkan rawon dan tahu kering dimasak oleh pihak pondok pesantren, sedangkan asal telur asin masih dalam penelusuran.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada mengatakan pihaknya telah mengambil sejumlah sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.

Sampel yang diambil meliputi rawon, telur asin, serta muntahan pasien guna memastikan sumber penyebab keracunan.

“Rawon diketahui dimasak oleh pihak pondok. Sementara untuk telur asin masih kami telusuri apakah berasal dari program SPPG atau disiapkan sendiri oleh pondok. Penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Hexawan.

Salah satu santri yang masih menjalani perawatan, Azizah Putri Salsabila (15) mengaku jika ia mengalami gejala keracunan usai menyantap telur asin menu MBG.

"Setelah mengkonsumsi telur asin saya mengalami gejala keracunan, mual lalu muntah. Kondisi telurnya kayak beda, ada bau seperti busuk, tapi tetap saya makan," jelasnya.

Dugaan Praktik Bermasalah di Dapur MBG

Di tengah penyelidikan penyebab keracunan makanan santri tersebut, muncul informasi mengenai dugaan praktik tidak sehat dalam pengelolaan dapur SPPG atau mitra MBG di Jombang.

Salah satu pemasok telur untuk dapur SPPG di Jombang yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan adanya praktik mark-up harga bahan baku oleh sejumlah mitra dapur MBG.

“Selain itu, ada juga supplier yang ‘dicekik’ dengan diminta menjual bahan jauh di bawah harga pasar. Tapi dalam laporan atau klaim tetap ditulis sesuai harga normal,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong pemasok menurunkan kualitas bahan pangan demi menekan harga.

Akibatnya, kualitas bahan makanan yang diterima dapur MBG bisa ikut terdampak dan berpotensi merugikan penerima manfaat program.

Ia juga menyebut pemasok bahan pangan untuk dapur SPPG di Jombang umumnya hanya didominasi oleh satu atau dua pihak yang ditunjuk langsung oleh mitra.

“Yang bisa masuk sebagai pemasok biasanya yang berani menawarkan harga paling murah, jauh di bawah standar pasar,” katanya.

Padahal, dalam konsep awal program MBG, dapur SPPG diharapkan dapat memberdayakan kelompok tani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM lokal sebagai pemasok bahan pangan.

Selain dugaan permainan harga bahan baku, muncul pula informasi mengenai indikasi keterlibatan oknum aparat dalam rantai pasok dapur MBG.

Seorang kepala SPPG di Jombang menyebut adanya dugaan pihak tertentu yang meminta menjadi pemasok tunggal daging ayam.

“Yang saya dengar ada dugaan aparat ikut mencari keuntungan di mitra SPPG. Diduga dengan meminta menjadi pemasok tunggal ayam dan mengambil keuntungan sekitar Rp5.000 per kilogram,” ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi ke Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Jombang masih dilakukan.(*)

Tombol Google News

Tags:

MBG SPPG Keracunan Makanan supplier MBG Keracunan MBG keracunan jombang jombang KABUPATEN JOMBANG